Rabu, 23 Januari 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Bang Sandi Akui Tak Miliki Kendali di Kilang TWU

Editor: samian
Jum'at, 11 Januari 2019
Ahmad Sampurno
Sandiaga Uno, menyampaikan ke awak media usai bertemu warga dan pengusaha di Cepu bahwa sudah tak miliki kendali di kilang TWU.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Dalam kunjungan di wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02, Sadiaga Uno mangaku, sudah tidak memiliki kendali atas keberadaan kilang mini milik Tri Wahana Universal (TWU) di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. 

“Saya sudah tidak memiliki kendali di sana,” kata Sandi, sapaan akrabnya, saat disinggung terkait masa depan operasi TWU, Jumat (11/1/2019).

Tapi, kata dia, tentunya harus berpihak kepada sumber daya lokal. “Jadi potensi-potensi ini harus dikembangkan jangan dimatikan karena perbedaan politik,” ungkap pria yang juga karib disapa Bang Sandi ini.

Sebagaimana diketahui, TWU telah berhenti produksi pada awal tahun 2018 lalu. Hal itu disebabkan adanya kenaikan bahan baku minyak mentah Banyuurip sebesar US$6 per barel. Itu  berdasarkan keputusan Menteri ESDM No.4028 K/12/MEM/2017 tanggal 21 November 2017, tentang formula harga minyak mentah Indonesia untuk jenis minyak Banyuurip.

Kenaikan harga itu setelah Pertamina meminta keadilan harga minyak agar disamakan dengan kilang-kilang lainnya. Pertamina melalui anak usahanya, PEPC memiliki hak kelola Lapangan Banyuurip sebesar 45%.

Harga baru tersebut, mengakibatkan bisnis TWU tidak ekonomis. Sehingga managemen terpaksa harus menghentikan kegiatan produksi.

Sebelumnya, TWU mendapatkan harga sesuai ICP Arjuna minus US$ 0,5 per barel. Setelah terbitnya keputusan menteri itu, harga menjadi  ICP Arjuna Plus US$ 5,5 per barel pada titik serah di Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang di lepas pantai Palang Tuban Jawa Timur.

Pada kesempatan yang sama, Bang Sandi juga menyoroti persoalan tenaga kerja lokal yang dihargai rendah di Indonesia.

"Tadi pekerja lokal mengeluh, di buminya sendiri, dihargai rendah dari pada tenaga kerja asing. Sehingga, mereka harus pergi keluar negeri,” ujarnya.

Menurutnya, dengan adanya kekayaan alam berlimpah di wilayah Cepu jangan sampai menjadi bencana.

“Bukannya menjadi karunia tapi justru menjadi bencana,” ungkpanya.

Di contohkan negara yang memiliki kekayaan berlimpah, justru akhirnya carut-marut karena pengelolaannya kurang baik. Seperti Venezuela sekarang memiliki kesulitan yang luar biasa. Padahal, Venezuela termasuk salah satu negara yang memiliki cadangan terbesar.

“Jangan sampai kekayaan alam di Cepu ini menjadi musibah bagi kita semua,” tandas pria berkacamata minus ini.

Sandi mengajak masyarakat untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Serta memberikan kesempatan kepada pemuda Cepu untuk berperan.

“Kanapa harus ke Dubai, ke Natuana. Wong di sini ada sumber daya alamnya kok,” beber Sandi.

Kesempatan dan penghargaan yang baik perlu diberikan kepada tenaga kerja lokal. Supaya mereka bisa bersaing dengan tenaga kerja asing yang datang dari mana pun.(ams)

Dibaca : 2015x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>