Rabu, 18 Juli 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Mantan Photographer Reuters

Enny : Sebelum Pikun Saya Ingin Berbagi

Editor: samian
Selasa, 12 Desember 2017
d suko nugroho
Enny saat menunjukkan salah satu hasil karyanya saat menjadi nara sumber lokakarya.

SuaraBanyuurip.com

Berbagi menjadi prinsip hidup Enny Nuraheni, mantan Photographer and Photo Editor Thomson Reuters Indonesia. Dia pun ingin membagikan pengalaman dan ilmunya sebelum pikun. 

SEBAGIAN rambutnya sudah mulai memutih. Namun tatapan matanya masih tajam di balik kaca mata yang dikenakan.

Sepintas itulah  yang terlihat pada diri Enny Nuraheni, saat menjadi nara sumber dalam Lokakarya Jurnalistik bertema "Mewujudkan Media yang Berintegritas di Era Digital" yang dilaksanakan Operator Minyak Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bekerjasama dengan Lembga Pers Dr. Soetomo (LPDS) di Semarang, Jawa Tengah, Senin (12/12/2017).

Enny merupakan wanita pertama Asia yang menjadi Chief and Photo Editor Thomson Reuters Indonesia. Dia pensiun dari kantor berita foto Inggris baru tiga tahun lalu.

"Saya berkarir di situ 27 tahun," kata Enny sebelum mulai memberikan materi.

Banyak hasil karyanya terpampang di surat kabar internasional seperti International Herald Tribune dan The Strait Times. Bahkan ia pun diberi kesempatan untuk memotret tokoh-tokoh powerful dunia seperti Ronald Reagan, Bill Clinton, George Bush junior dan senior hingga Gorbachev, yang dibidiknya dari jarak kurang dari 3 meter.

Bahkan Enny menjadi satu-satunya wakil Reuters di Indonesia di bidang foto selama 7 tahun, harus meliput di acara kepresidenan, Sea Games, pesawat jatuh hingga konflik di Timor-Timur.

"Jadi photografer di Reuters semua harus dibelajari dan semua harus bisa," ucap Enny.

Pahit manis dunia fotografi dirasakan Enny. Mulai mengambil foto konflik hingga menggunakan peralatan sampai pengiriman dengan masih terbatasnya alat dan sarana ke redaksi.

"Pernah saya akan mengirim foto konflik di Timor-Timur di blokir oleh TNI. Kemudian saya pergi ke Bali untuk mengirimnya. Padahal saat itu hanya satu dua foto yang akan saya kirim. Setelah itu saya kembali ke lokasi konflik," kenang Enny.

Sesuai pengalamannya di Reuters, tim work menjadi bagian penting antara reporter dan photografer terutama saat melakukan peliputan bencana maupun konflik. Selain itu juga harus mempersiapkan kelengkapan sendiri sehingga tidak merepotkan orang lain.

"Teman reporter saya pernah hilang kontak saat liputan bencana gempa di Sumatera. Kantor memberi tugas saya untuk mencari sampai ketemu. Ini kan merepotkan, saya masih mengambil gambar tapi juga harus mencari rekan saya," ungkap wanita yang juga mengajar di LPDS sejak 2013 lalu.

Sebelum pensiun, Enny kemudian membuka jaringan perwakilan photografer Reuters di tiap provinsi di Indonesia agar karya generasi mendatang bisa tetap go internasional. Sebagian besar yang direkrut adalah mahasiswa yang suka hoby memfoto melalui seleksi yang ketat.

"Sebelum pikun saya ingin berbagi. Pengalaman dan ilmu yang saya dapat selama ini ingin saya bagikan kepada generasi," tutur Eny.

Karena itu Enny berpesan jangan patah semangat jika pimpinan atau redaktur tidak puas dengan hasil karya dan memerintahkan untuk mengulang pengambilan foto. Karena hal itu bertujuan agar hasil karya yang ditampilkan benar-benar maksimal.

"Mengambil foto itu dari mata harus jatuh di hati," pungkas Enny.(d suko nugroho)

Dibaca : 791x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan