Pemerintah Bidik 10 Proyek Hulu Migas

Selasa, 16 Juli 2019, Dibaca : 456 x Editor : samian

Ahmad Sampurno
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Pudja (berklung emas) saat menghadiri wisuda mahas


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membidik 10 proyek utama Subsektor Hulu Migas di Tahun 2019. Yang sedang dan akan  beroperasi (on going and upcoming upstream), nilai investasi  dapat mencapai US$ 40,8 miliar.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Pudja, saat menyampaikan sambutan pada wisuda mahasiswa PEM Akamigas Cepu, Selasa (16/7/2019).

Baca Lainnya :

    Adapun 10 proyek tersebut, Blok A Aaceh dengan total cadangan gas sebesar 563 billions of standard cubic feet (bscf), lalu Jambaran Tiung Biru (JTB) dengan total cadangan gas sebesar 97 bscf dan produksi gas sebesar 330 MMSCFD.

    Madura dengan produksi gas sebesar 110 MMSCFD, Ande-Ande Lumut dengan produksi minyak sebesar 25.000 bopd, serta East Natuna dengan total cadangan gas sebesar 46 TCF.

    Baca Lainnya :

      Kemudian, Jangkrik Complex Project dengan total cadangan gas sebesar 2,27 TCF dan produksi sebesar 450 MMSCFD, IDD BANGKA dengan total cadangan gas sebesar 100,41 bscf dan produksi sebesar 110 MMSCFD.

      Masela dengan total cadangan gas sebesar 10,73 TCF, Kemudian Wasambo dengan total produksi gas sebesar 70 MMSCFD, dan Tangguh Train 3 dengan total cadangan gas sebesar 5,7  TCF dan produksi sebesar 70 MMSCFD.

      Dia melanjutkan, pada Subsektor Hilir Migas, nilai investasi dapat mencapai US$  993,51 juta. Terdiri dari investasi bidang pengolahan, bidang  pengangkutan, penyimpanan, niaga serta pembangunan LNG untuk PLN.

      "Sebagian besar dari nilai investasi tersebut  digunakan di bidang pengolahan (refinery)," ujar Wirat.

      Bidang refinery diantaranya, pembangunan kilang minyak baru di Tuban, Pertamina Blue Sky Project di Cilacap, Refinery Development Master Plan (RDMP) IV Cilacap, RDMP V Balikpapan dan RDMP VI Balongan.

      Dalam pengembangan tersebut, lanjut dia, ketersediaan tenaga kerja yang bermutu merupakan salah satu syarat bagi akselerasi dan keberlanjutan pertumbuhan industri migas.

      "Bukan hanya terampil, namun juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Apalagi migas bukan sektor yang teknologinya mudah," tandasnya.

      Dengan masuknya era Revolusi Industri tahap keempat atau yang sering disebut 4.0 (four point o) yang merambah ke semua sektor, lanjut Wirat, tak terkecuali di ranah industri migas.

      "Hal ini merupakan sebuah peluang sekaligus tantangan yang harus dimanfaatkan," ungkapnya.

      Menurut dia, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan berbagai langkah. Diantaranya mendorong angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya. Utamanya untuk memahami penggunaan teknologi atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri.

      Upaya tersebut dilakukan dengan menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi.

      "Yang link and match dengan industri yang mengisyaratkan agar para lulusan pendidikan vokasi mempunyai penguasan materi, keterampilan, wawasan, sikap kompetitif, etika dan motivasi kerja," terang dia.(ams)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more