Kamis, 18 Juli 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Silpa Bojonegoro Tinggi Indikasi Perencanaan Buruk

Editor: nugroho
Rabu, 19 Juni 2019
ririn wedia
Anggota Badan Pekerja ICW, Lais Abid mengindikasi tingginya SiLPA Bojonegoro akibat perencanaan buruk.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro  - Indonesia Corruption Watch (ICW) mengindikasikan bebera hal terkait tingginya sisa lebih anggaran tahun berkenaan atau SiLPA APBD Bojonegoro, Jawa Timur, tahun 2018 yang mencapai Rp2,1 triliun. Salah satunya disebabkan oleh penyusunan perencanaan program yang kurang baik.

Menurut Anggota Badan Pekerja ICW, Lais Abid tingginya SiLPA dan molornya program kerja Pemerintah Daerah biasanya disebabkan program yang disusun lebih banyak tidak dibutuhkan di lapangan.

"Karena perencanaan yang tidak baik itu, sehingga anggaran yang dipakai tidak maksimal," ujarnya saat workshop peningkatan kapasitas koalisi masyarakat sipil kawal pengadaan barang dan jasa pemerintah di Hotel Aston, Rabu (19/6/2019). 

Kemungkinan lainnya, lanjut dia, mengarah ke tindak pidana karena dimungkinkan ada anggaran yang ditetapkan dengan nilai lebih tinggi dari kebutuhan. Penentuan nilai yang digelembungkan ini, diharapkan bisa meraup palente dari lebihan anggaran yang semestinya digunakan. 

"Bisa mengarah pidana jika itu disengaja. Karena potensi korupsi bisa terjadi mulai dari perencanaan anggaran," tegasnya. 

Wakil Bupati Bojonegoro, Budi Irawanto, sebelumnya menyampaikan jika besarnya SiLPA tersebut bukan dikarenakan ketidakmampuan pemkab mengelola keuangan daerah. Melainkan disebabkan pendapatan Bojonegoro melonjak signifikan sejak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu berproduksi puncak, dan naiknya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar.

Dijelaskan, SiLPA tersebut merupakan akumulasi dari SILPA BLUD senilai Rp4,1 miliar, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (F-KTP) senilai Rp13,4 miliar, Bantuan operasional sekolah senilai Rp1,664 miliar, Sisa dana DAK fisik, non fisik, dan dana insentif daerah senilai Rp29,8 miliar.

Kemudian pelampauan pendapatan dari dana transfer senilai Rp1 triliun dan sisa SiLPA tahun 2017 ditambah efisiensi belanja selama tahun 2018 senilai total Rp824 miliar.

"Jumlah SILPA yang besar ini merupakan berkah sekaligus tantangan bagi kita. Karena, sejatinya SILPA itu merupakan keberkahan bagi bumi Bojonegoro selaku daerah penghasil minyak dan gas bumi,” kata Wawan, sapaan akrabnya saat membacakan pertanggungjawaban APBD 2018, Rabu (12/6/2019) lalu.(rien)



Dibaca : 229x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan