Warga Sarankan Penyiraman Jalan Menuju Proyek JTB Dimaksimalkan

Rabu, 31 Juli 2019, Dibaca : 381 x Editor : samian

Ririn Wedia
POLUSI DEBU : Kurang maksimalnya dalam memberikan penyiraman membuat jalan menuju proyek JTB berdebu.


SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia 

Bojonegoro - Sebagian pengguna jalan dan warga desa sekitar proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) mengeluhkan dampak polusi debu yang disinyalir ditimbulkan dari aktivitas proyek J-TB. Mereka menyarankan agar perusahaan yang terlibat di proyek JTB memberikan penyiraman maksimal.

Mulai dari Selatan pertigaan Dusun Gledegan, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam hingga lokasi Proyek Gas JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Baca Lainnya :

    Salah satu pengguna jalan, Joko Susilo, mengaku, debu yang dihempas ban mobil baik dump truk, dan mobil pribadi maupun mobil alat berat saat melintasi jalan sepanjang lebih dari lima kilo meter menuju lokasi proyek JTB cukup luar biasa. Sehingga membahayakan bagi kesehatan dan pengguna jalan karena membuat pandangan menjadi kabur terhalang debu.

    "Kalau pas kondisi arus lalulintasnya ramai dan kita dibelakang dump truck, dan alat berat debunya amit-amit mau nyalip saja tidak berani. Karena mandang depan arah berlawanan tidak kelihatan. Jadi penyiraman maksimal perlu dilakukan agar polusi debu dapat diminimalisir," kata Joko Susilo, warga Desa Butoh ini, kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (31/7/2019).

    Baca Lainnya :

      Senada diungkapkan warga Desa Mojodelik, Edi Eko. Dia mengaku tidak menyalahkan siapapun namun hanya menyarankan agar perusahaan mengantisipasi kondisi musim kemarau. Karena tanah mudah kering kena terik matahari. Apalagi jalan yang masih berupa beskos mudah menimbulkan polusi debu.

      Setahu pria berkulit sawo matang ini, bahwa perusahaan sudah berupaya melakukan penyiraman namun memang kurang maksimal. Penyiraman basah hanya dilakukan di depan warung kopi, dan saat hendak ada kegiatan kunjungan dilokasi proyek.

      "Penyiraman perlu ditingkatkan. Setidaknya sehari harus dilakukan lebih dari empat kali, dengan kondisi basah sepanjang jalan menuju lokasi proyek," sarannya.

      Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Nurul Azizah mengaku, belum mendapatkan laporan dari warga terkait adanya debu yang diduga dihasilkan dari lalu lintas transportasi proyek JTB.

      "Akan kita pantau dulu," kata Kepala DLH Bojonegoro, Nurul Azizah, kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (31/7/2019).

      Di singgung kapan akan dilakukan pemantauan di lapangan, wanita berhijab ini mengaku belum tahu. Pihaknya meminta Suarabanyuurip.com untuk bertanya pada salah satu stafnya.

      "Coba hubungi Bu Muhayanah," lanjutnya.

      Pihaknya menyampaikan, akan memantau di lapangan terlebih dahulu baru mendapatkan solusi. Tidak ada keterangan apapun dari DLH, tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan akibat debu yang mengganggu aktivitas warga sekitar proyek.

      Sementara, Site Manager PT Rekayasa Industri, Zainal Arifin, belum memberikan penjelasan secara detail perihal polusi debu tersebut. Hanya saja berjanji akan menemui Suarabanyuurip.com pada Jumat depan usai bertugas di luar kota.(rien)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more