Kebun Banyak Jadi Permukiman, Pokdarwis Wedi Tanam 1.000 Bibit Salak

user
nugroho 07 Desember 2020, 21:25 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Jumlah pohon perkebunan salak wedi kian hari semakin berkurang. Itu seiring dengan alih fungsi lahan kebun salak milik warga menjadi permukiman. Salak wedi sudah tertanam sejak 1900 di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu, tumbuh di kebun sekitar rumah warga. Namun, keberadaan kebun salak terancam punah karena alih fungsi lahan.

Pohon salak wedi tersebar di rumah-rumah warga dengan luas lahan keseluruhan mencapai sekitar 60 hektare. Itu setiap tahunnya pohon salak pasti berkurang. Karena pohon salak yang tumbuh di tanah milik warga itu berganti dengan permukiman.

Perlu melakukan pengembangan agar potensi lokal seperti kebun salak tidak terancam keberadaannya, kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wedi Subkhan. Karena itu, untuk mengantisipasi berkurangnya pohon salak pemerintah desa (pemdes) sudah menyiapkan lahan seluas 3,4 hektare. Dan lahan itu sudah ditanami 1.000 bibit salak.

"Penanaman bibit salak itu dilakukan sejak Januari 2020 lalu. Hingga kini, ketinggiannya sudah mencapai 1 meter," katanya, Senin (7/12/2020).

Bibit salak itu hasil dari cangkokan jenis menjalin. Karena, jika langsung menanam biji salak pasti hasilnya bisa berubah, tidak sesuai jenis. Rencananya, meski baru berumur setahun akan dijadikan pendongkrak perekonomian warga. Selain itu, warga Desa Wedi diharapkan mempunyai rasa memiliki akan potensi lokal seperti salak wedi agar keberadaannya terus terjaga.

Salak wedi sudah mulai ditanam warga sejak 1900, tersebar di 21 RT di sekitar rumah warga hingga kini sudah menjadi berbagai macam olahan makanan. Seperti salak kurma, kopi biji salak, dan teh kulit salak itu hampir setiap minggu diproduksi. Namun, yang menjadi unggulan makanan olahan dari salak wedi adalah kurma salak.

"Olahan itu, berawal dari adanya festival salak wedi pada 2017 lalu. Namun sampai saat ini yang menjadi unggulan adalah salak kurma karena pemesannya banyak," katanya kepada SuaraBanyuurip.com.

Kebun salak di Desa Wedi masa panen raya dua kali dalam setahun. Namun masa petiknya 3 hingga 4 kali karena pertumbuhan buah salak bertahap. Juga dalam sekali panen buah salak bisa mencapai 20 ton. Ada tiga varietas salak di perkebunan yakni salak kebo, nanas, dan menjalin. Namun, rasa yang paling manis berjenis menjalin.

"Namun, meski salak yang tertanam di kebun milik warga masih ada. Untuk mengantisipasi berkurangnya pohon salak karena alih fungsi lahan. pemdes telah menyiapkan lahan," katanya. (jk)

Kredit

Bagikan