Olahan Salak Kurma, Makin Diminati Konsumen Menjelang Lebaran

user
nugroho 21 April 2021, 08:25 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Kurma salak sudah tak asing di telinga masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur. Buah yang identik dengan bulan Ramadhan ini tak hanya dinikmati saat berbuka puasa maupun sahur saja. Namun, kurma salak kini sudah menjadi suguhan wajib saat Lebaran.

Ide membuat camilan kurma salak ini awalnya karena melimpahnya buah salak yang tumbuh di kebun di Desa Wedi, Kecamatan Kapas kata Rumisah mengawali cerita. Banyaknya buah salak lantas membuat perempuan usia 46 tahun itu berpikir membuat inovasi makanan berbahan dasar salak.

"Itu semenjak 2017 lalu waktu ada festival salak. Jadi, niatnya menolong salak-salak itu daripada tidak kemakan lebih baik dijadikan olahan," katanya, Selasa, (20/4/2021).

Membuat olahan salak kurma, tentu Rumisah mengalami banyak kegagalan tidak sekali jadi. Awal mencoba, olahan salak buatannya kualitasnya kurang bagus. Namun, setelah ia mencoba beberapa kali hasilnya bagus tidak lembek dan berair.

Ia menjelaskan, produksi kurma salak ada beberapa tahapan yakni mulai dari pengupasan, pembersihan, dan dilakukan perendaman dengan air kapur sirih selama 12 jam. Setelah itu, direbus lagi dengan air gula kemudian dijemur hingga dua hari dan terakhir dioven selama 30 menit.

"Jenis salak harus salak wedi sebab salak lainnya tidak cocok. Produksi salak sampai siap konsumsi bisa mencapai 2 hingga 3 hari prosesnya. Itu kalau cuaca cerah kalau mendung jadi pengeringannya tidak cukup 2 hari saja," kata perempuan asal Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Hasil dari olahan kurma salak tentu kini rasanya sudah lebih enak, legit, tidak lengket dan tanpa bahan pangawet kimia. Misalnya, kata dia, warna coklat seperti kurma asli dari buah salak itu sendiri.

Namun, olahan kurma salak ini meski setiap hari berproduksi menjelang lebaran produksinya diperbanyak. Sebab, dua minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri jumlah permintaan sangat banyak.

"Kalau untuk suguhan lebaran pakai toples. Akan tetapi, lebaran tahun ini pemesanan berkurang karena pandemi. Selain itu, bahan baku salak tidak ada karena belum musim panen," katanya.

Rumisah mengatakan, menjelang lebaran biasanya hingga 500 toples yang memesan belum yang dari luar kota. Kini adanya pandemi Covid-19 berkurang hingga 50 persen, tetapi masih mencoba bertahan.

"Juga dengan jumlah salak yang diolah ikut berkurang sebelumnya 10 kilogram (kg) kini menjadi 5 kg saja. Kalau untuk harga mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu untuk isi 150 gram," ungkapnya.(jk)

Credits

Bagikan