Mentan Perintahkan Sergap Tanpa Syarat

user
samian 15 Maret 2016, 12:25 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mensinyalir ada persoalan serius sehingga Badan Urusan Logistik (Bulog) kerap kesulitan memenuhi cadangan beras pemerintah sehingga setiap tahun harus dilaksanakan impor.

Pernyataan itu disampaikan Amran usai panen serap gabah petani (Sergap) di Desa Warungring, Kecamatan Kedungpring, Lamogan, Jawa Timur, Minggu 13 Maret 2016.

“Uang untuk penyerapan gabah petani sebesar Rp 200 triliun sudah disiapkan. Gudang ada, uang ada, gabah juga tersedia, tapi kok tidak bisa serap gabah, ini pasti ada persoalan,“ kata Amran.

Diceritakan Amran, usai melakukan Inspeksi Mendadak (sidak) banjir di Lamongan delapan hari lalu, dia langsung menghadap presiden untuk melaporkan harga gabah yang tidak menggembirakan. Dia kemudian menyebutkan harga di Lamongan yang Rp 3.200 perkilogram, di Bojonegoro Rp 3.400 perkilogram dan di Nganjuk yang juga Rp 3.400 perkilogram.

“Kami diperintah Bapak Presiden untuk pimpin lakukan sergap. Sehingga tadi saya sengaja copot spanduk Bulog yang mencantumkan syarat kadar air untuk pembelian gabah petani. Tidak diskusi kadar air di musim hujan, serap semua gabah petani, berapapun kadar airnya,“ tegas Amran.

Di penjuru dunia manapun, kata Amran, kalau musim hujan, kadar air hasil panen pasti tinggi. Dia menyebut adanya regulasi yang mensyaratkan kadar air dan kadar hampa untuk pembelian gabah petani melalui Bulog sebagai aturan yang menyulitkan.

Karena itulah pihaknya menggandeng TNI untuk mengawal ketahanan pangan dan penyerapan gabah. Mentan juga sempat memberi tantangan kepada Tenaga Harian Lepas (THL) penyuluh pertanian untuk mampu menyerap gabah, masing-masing lima ribu ton.

“Hari ini tanda tangan kontrak dengan saya. Jika ada yang mampu penuhi target, surat rekomendasi pengangkatan menjadi PNS akan saya tandatangani dan saya sampaikan kepada Men PAN,“ janji Amran dalam acara yang juga dihadiri Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Viva Yoga Mauladi bersama Pangdam V Brawijaya, Mayjen Sumardi dan Bupati Lamongan Fadeli serta Wakil Bupati Kartika Hidayati.

Amran, juga menyentil sejumlah pihak yang meragukan data BPS dan Kementerian Pertanian bahwa terjadi kenaikan produksi pertanian.

“Saat ini terjadi anomali. Bulan Januari dan Februari yang biasanya paceklik, kini di pasaran banjir beras hingga stok melonjak 100 persen. Kemudian ketika saat ini baru mulai panen, harga sudah langsung turun,“ sebut dia.

Normalnya, lanjut Amran, di Januari dan Februari seharusnya harga beras naik karena rendahnya pasokan. “Tapi sekarang semua terbalik. Ini semua bukti empiris, data BPS dan Kementerian (Pertanian) soal peningkatan produksi itu benar, “ jelentreh dia.

Sementara Bupati Fadeli menyebutkan rendahnya serapan gabah petani Lamongan oleh Bulog. Tahun lalu, gabah petani Lamongan yang diserap Bulog hanya 17 ribu ton, itu tidak ada 10 persen dari produksi gabah Lamongan yang mencapai hampir 1 juta ton.

“Terima kasih sudah dibantu, sehingga Kementerian PU sudah menganggarkan Rp 15 miliar untuk normalisai dan pembuatan pintu air di Sungai Semar Mendem yang setiap tahun mengakibatkan lahan padi di Kedungpring dan Modo selalu kebanjiran,“ ujarnya.(tok)

Kredit

Bagikan