Bu Siti Setia Menapaki Usaha Kios Koran, Pernah Berjaya Era 1998 (2)

user
nugroho 15 Agustus 2022, 06:00 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bu Siti, boleh dibilang orang yang setia dengan usaha kios koran. Pagi sebelum subuh, ia sudah disibukkan dengan tumpukan koran. Dan tak terasa, sudah puluhan tahun Bu Siti menggeluti bisnis ini.

Saat merintis usaha kios koran tahun 1989 di Bojonegoro, jalan yang dilaluinya penuh liku. Ada saja tantangannya. Ia sempat bangkrut, bahkan pernah rugi Rp 25 juta karena barteran koran.

Tentu itu menjadi pengalaman yang pahit selama menggeluti bisnis jualan koran. Jika dihitung-hitung, bukan hanya sekali, tapi tiga kali Bu Siti jatuh saat merintis usaha kios koran.

"Dulu, orang-orang saat membeli koran langsung dibawa tanpa membayar. Jadi, ambil bawa dan bayarnya di belakang. Sekarang sistemnya sudah diubah atau langsung bayar agar tidak rugi," cerita Bu Siti kepada suarabanyuurip.com.

Yang paling parah, lanjut Bu Siti, ia pernah rugi sampai Rp 25 juta karena barteran koran dengan pemilik agen koran lain. Ceritanya, kalau sudah menjadi agen salah satu koran maka tidak boleh menjadi agen dari koran lainnya. Sehingga untuk menyiasati, memakai cara barteran dengan agen lain.

"Saya masih ingat," kata perempuan asli Sumatera Barat itu.

Bu Siti mengaku waktu itu sangat kecewa, karena sampai tidak dipercaya oleh saudaranya. Lantaran Bu Siti bisa menjadi agen Kompas di Bojonegoro, salah satunya karena punya saudara yang bekerja di Kompas.

Zaman berganti, cerita kios koran ikut berganti

Saat ini, seiring perubahan cara konsumsi informasi ke arah digital, smartphone berpengaruh besar terhadap media koran yang sejak dulu dipercaya masyarakat untuk mencari informasi dan bahan bacaan.

Pelanggan koran di kios Bu Siti juga ikut turun karena digitalisasi. Sekarang, masyarakat lebih memilih menggunakan kemudahan dari smartphone untuk mengakses informasi dibandingkan harus ke kios untuk beli koran.

Bu Siti Setia Menapaki Usaha Kios Koran, Pernah Berjaya Era 1998 (2) Kios koran milik Siti Maemunah sudah berusia puluhan tahun.(jk)

Bahkan, jika dibandingkan tahun 1998 lalu keberadaan koran yang dulu menjadi jujugan kini mulai ditinggalkan.

"Kalau merintis tidak gampang yang penting minta Yang Ada di Atas (Tuhan, red). Dulu waktu jaya-jayanya koran aku lupa dan kurang bersyukur. Sekarang merintis lagi pelan-pelan meski tak punya apa-apa tapi hati terasa tentram," kata Bu Siti sambil tersenyum ramah.

Koran Pernah Berjaya di Tahun 1998-2005

Dulu, pelanggan tetap di kios milik Bu Siti hampir ribuan orang setiap harinya. Itu terdiri pelanggan majalah, tabloid hingga koran. Bu Siti juga menjadi saksi hidup matinya sebuah perusahaan-perusahaan media di Indonesia terutama yang oplahnya masuk di Bojonegoro.

Bu Siti masih ingat betul saat media cetak di puncak jaya-jayanya. Terutama media koran Jawa Pos pada tahun 1998 Bu Siti memiliki sekitar 400 lebih pelanggan tetap.

Bahkan, ia mengatakan, per hari mampu mendapatkan penghasilan Rp 500.000 dari jualan koran pada tahun itu. Bu Siti juga membiayai kuliah anaknya hingga lulus sarjana dari hasil jualan koran.

"Banyangkan saja uang setengah juta pada tahun 1998 didapatkan dalam sehari," kata Bu Siti sambil mengenang.

Bu Siti Setia Menapaki Usaha Kios Koran, Pernah Berjaya Era 1998 (2) Kios koran milik Siti Maemunah pernah berjaya di era 1998.(jk)

Memang dulu yang paling banyak pelanggan di kios Bu Siti dari Jawa Pos, kemudian disusul Kompas ada 100 pelanggan. Sisanya majalah dan tabloid. Namun, Bu Siti harus bersusah payah untuk bertahan menjadi agen koran hingga sekarang.

Sebab sejumlah majalah, tabloid hingga koran tutup. Kini, pelanggan Bu Siti kian menurun tak sebanyak dulu. Jumlah pelanggan yang dulu ratusan, kini tinggal belasan. Semua sudah beralih ke digital. Apalagi rata-rata yang menjadi pelanggan saat ini kebanyakan orang tua. Ada juga dari guru sastra, dan wartawan.

"Dulu DPRD dan Pemkab Bojonegoro juga ada yang langganan tapi sekarang sudah tidak. Otomatis dari turunnya pelanggan penghasilan saya juga turun, bahkan tidak sampai Rp 300 ribu per hari," kata Bu Siti.

Namun, Bu Siti tetap bersyukur dengan keadaannya sekarang. Ia mampu menyekolahkan dan menguliahkan dua anaknya hingga lulus dari jualan koran. Bu Siti masih ingin terus berjualan koran selama ia masih kuat.

"Ya, masih ingin terus jadi agen koran. Karena dari dulu koran yang menghidupi saya hingga sekarang," katanya.(jk)

Kredit

Bagikan