Sepenggal Kisah Sang Seni Lukis Bojonegoro

user
Sasongko 09 Oktober 2022, 22:26 WIB
untitled

Kabupaten Bojonegoro adalah sebuah daerah di wilayah provinsi Jawa Timur (Jatim) ternyata tak hanya sebagai penghasil minyak dan gas bumi (Migas) saja. Kendati juga menyimpan segudang tokoh seniman hebat. Imam Mahdi salah satunya.

SANG SURYA sudah mulai lengser ke ufuk barat bersiap semayam di peraduan, pun sinarnya meredup karena tertutup awan saat wartawan media ini bertandang ke rumah Imam Mahdi di Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro. Bermacam benda seni rupa beserta perkakas kesenian terpajang di setiap sudut ruangan.

"Mari masuk, Mas," ucapnya ramah mempersilakan, seraya berhenti melukis di atas kanvas.

Pelukis berusia lebih dari 50 tahun ini perlahan menceritakan bahwa menggandrungi seni lukis sejak kecil. Bahkan, ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sudah bisa melukis dan hafal aksara Jawa. Bagi pelukis beraliran natural realis ini, melukis adalah seni mengolah rasa.

"Waktu masih di SDN Mojokampung, dulu sudah sering diikutkan lomba lukis. Alhamdulillah selalu dapat juara 1," katanya.

Imam Mahdi sedang melakukan aktivitas melukis.
© 2022 suarabanyuurip.com/Arifin Jauhari

Pria berpenampilan nyentrik ini masih mengenang, bagaimana kemampuan lukisnya berkembang saat dibimbing oleh Mbah Kiman. Seorang Guru Kesenian di SMPN 1 Bojonegoro. Dimana Imam merupakan salah satu murid angkatan tahun 1986.

Lajang hingga di usia setengah abad lebih ini dulunya tidak mengerti, meski dia sering menjadi juara lomba lukis, tetapi Mbah Kiman tak pernah memberinya nilai tinggi. Kendati, Mbah Kiman selalu merobek satu halaman lukisannya untuk ditaruh di majalah dinding (Mading) sekolah.

"Guru lukis saya dulu itu Mbah Kiman. Lukisan saya hanya diberi nilai 4,5 yang selalu lebih rendah dari teman sekelas. Tapi setelah itu diambil dan ditaruh di Mading. Waktu itu saya belum menyadari kenapa saya diperlakukan begitu. Di kemudian hari baru saya sadar, kalau dipek rasane (yang diambil adalah rasanya)," ujarnya.

Dalam perjalanan panjangnya mendedikasikan bakat seni rupa itulah dia temukan sebuah kesadaran. Bahwa seni itu olah rasa yang diwujudkan, entah dituangkannya dalam media apa saja.

"Perwujudan rasa syukur. Karena telah diberi anugerah, berupa bakat melukis. Saya melukis sesuai dengan kenyataan. Istilahnya natural realis. Dalam beberapa tekniknya saya lakukan secara otodidak," terangnya.

Saat disinggung berapa jumlah karyanya. Imam tak bisa lagi menghitungnya. Namun ia mengingat sering mengikuti festival seni di Jawa Tengah. Tahun 2001, 2011, hingga 2022, dan selalu mengikuti festival kesenian di Yogyakarta. Meski begitu, dia tak pernah ikut perkumpulan seniman.

"Lukisan saya banyak dicari ketika justru sudah di rumah. Jadi bisa ditawar tidak seharga pameran. Ini tidak mengapa buat saya," tandasnya.

Selama melukis, hal yang paling berkesan baginya ialah saat lukisannya dibeli oleh pejabat salah satu pabrik rokok asal Kudus, Jawa Tengah. Saat itu lukisannya dihargai Rp5 juta ditambah gelang akar.

"Bukan nilai lukisannya yang membuat saya terkesan. Tapi jalinan setelahnya. Sampai saat ini ketika lebaran, natal, tahun baru selalu ditranferi uang. Padahal beliau transfer itu tidak pesan lukisan apapun," tambahnya.

Dalam berkarya, Imam menyebut ide yang diangkat lebih banyak bertema alam dan budaya Jawa. Soal laku dan tidak bukan persoalan baginya. Keyakinan bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Tuhan. Sehingga tak pernah membuat goyah dari hatinya.

"Yang penting berkarya. Karena kalau tidak, berarti saya menyia-nyiakan bakat yang dianugerahkan Tuhan. Semoga generasi penerus banyak yang menyukai seni lukis. Sehingga tetap lestari dan tak punah ditelan perkembangan zaman yang semakin modern," pungkasnya dalam sepenggal kisah cintanya di seni lukis.(Arifin Jauhari)

Kredit

Bagikan