Tak Capai Target, Lifting Minyak Bojonegoro 2021 Capai 76,402 Juta Barel

user
nugroho 27 Juni 2022, 07:00 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Lifting minyak dan gas bumi (migas) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur pada 2021 tidak memenuhi target. Dari target 83.991.760 barel hanya terealisasi 76.402.676 barel.

Kabid Perimbangan dan PAD lainnya Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Achmad Suryadi mengatakan, lifting dipengaruhi harga minyak dunia. Sehingga, realisasi lifting tidak memenuhi target yang ditentukan pemerintah.

"Untuk realisasi lifting minyak di 2021 terealisasi 76.402.676 BOEPD atau 91 persen dari target 83.991.760 BOEPD," katanya, Minggu (26/6/2022).

Dia mengatakan, target dan realisasi lifting minyak itu rincian dari KKKS migas. Yakni meliputi PT Pertamina EP 4 target liftingnya 3.724.240 barel yang terealisasi 2.102.936 barel atau 56 persen, ExxonMobil Cepu target liftingnya 79.935.000 barel sementara realisasinya 74.299.017 barel atau 93 persen.

"Sedangkan, untuk Pertamina EP Cepu target liftingnya 332.520 barel dan terealisasi 721.61 barel," katanya kepada suarabanyuurip.com.

Suryadi menjelaskan, lifting tidak mencapai target karena pengaruh harga minyak dunia dan Indonesia Crude Price (ICP). Sehingga, dari target lifting yang ditentukan dari pengaruh dua hal itu tidak tercapai atau turun.

Sementara, Pemerintah mengusulkan lifting minyak dan gas bumi dalam Rancangan Anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2022 berkisar antara 1.717.000 hingga 1.829.000 barel setara minyak per hari (BOEPD), terdiri dari lifting minyak 686.000 hingga 726.000 barel per hari dan lifting gas bumi 1.031.000 hingga 1.103.000 BOEPD.

Usulan disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR, Rabu (2/6/2022) terkait Asumsi Dasar Sektor ESDM RAPBN Tahun 2022 dan Pagu Indikatif RKA-K/L dan RKP Kementerian ESDM Tahun 2022.

Angka ini lebih tinggi dibanding lifting migas tahun 2021 yang dalam APBN ditetapkan sebesar 1.712.000 BOEPD. Hingga 20 Mei 2021, realisasi lifting migas mencapai 1.592.000 BOEPD dan outlook 2021 sebesar 1.669.000 BOEPD.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Arifin mengatakan, realisasi lifting minyak hingga 20 Mei 2021 tersebut, terutama berasal dari 15 KKKS yaitu Mobil Cepu Ltd, PT Chevron Pacifin Indonesia, PT Pertamina EP, PHM, Pertamina Hulu Energi ONWJ Ltd, PT Pertamina Hulu Energi OSES, Petrochina International Jabung Ltd, Medco E&P Natuna, Petronas Carigali (Ketapang) Ltd, Pertamina Hulu Kalimantan Timur, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga, BOB PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu, PT Medco E&P Rimau, JOB Pertamina-Medco Tomori Sulawesi Ltd dan ConocoPhillips (Grissik) Ltd.

Sedangkan 15 KKKS utama produksi gas adalah BP Berau Ltd, ConocoPhillips (Gresik) Ltd, PT Pertamina EP, PHM, ENI Muara Bakau B.V, JOB Pertamina-Medco Tomori Sulawesi Ltd, Premier Oil Indonesia, Petrochina International Jabung Ltd, Medco E&P Natuna, Kangean Energi Indonesia, Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore, PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang, Husky-CNOOC Madura Ltd, Pearl Oil (Sebuku) Ltd dan Pertamina Hulu Energi ONWJ Ltd.

Menteri ESDM mengusulkan ICP tahun 2022 antara US$55 hingga US$ 65 per barel. Dalam APBN 2021, ICP ditetapkan US$ 45 per barel dan realisasi hingga 20 Mei 2021 mencapai US$ 60,95 per barel. Outlook 2021 sebesar US$ 60 per barel.

"Proyeksi ICP tahun 2022 tersebut didasarkan pada rencana OPEC melanjutkan pemotongan produksi yang mendorong kenaikan harga minyak dunia," katanya sebagaimana dikutip dari laman ESDM.

Selain itu, peningkatan fundamental di AS dan Tiongkok, optimisme atas ekspektasi permintaan minyak mentah pulih kembali. Hal ini, karena ekonomi mulai bergerak dan pembatasan wilayah dibuka kembali.

"Faktor lainnya adalah Tiongkok secara signifikan meningkatkan impor minyak mentahnya sehingga membantu mendukung permintaan minyak global," katanya.(jk)

Kredit

Bagikan