Train 3 Tangguh Ditarget Onstream Maret 2023

user
nugroho 23 Juni 2022, 07:00 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Pembangunan Train 3 LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat telah mencapai lebih dari 90 persen. Proyek yang menelan investasi sebesar USD8,9 miliar dan akan menghasilkan 3,8 juta ton LNG per tahun itu ditargetkan onstream pada Maret 2023.

"Sesuai kesepakatan, Train 3 Tangguh selesai kuartal 1 2023," ujar Direktur Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Tutuka Ariadji usai meninjau proyek pembangunan Train 3 LNG Tangguh, usai Selasa (21/6/2022).

Dalam kunjungan tersebut, pihaknya ingin melihat langsung perkembangan pekerjaan Tran 3 Tangguh. Di area ini, juga terdapat Tangguh Train 2.

"Kita ingin tahu secara fisik sudah seberapa jauh," tegasnya.

Selain meninjau, Tutuka melakukan dialog dengan para pekerja dari bp dan kontraktor yang terlibat langsung dalam pekerjaan Train 3 untukmengetahui kendala-kendala dalam pelaksanaan di lapangan.

"Dalam diskusi, pekerja menyampaikan progress pekerjaan mereka dan kendala-kendala yang ada, kita bahas bersama bagaimana pemecahannya," lanjut pria yang pernah menjabat Kepala PPSDM Migas itu.

Dari hasil diskusi dan melihat langsung progress pekerjaan yang ada, Tutuka optimis pembangunan fasilitas Train 3 dapat diselesaikan sesuai target yang sudah disepakati yakni pada kuartal I Tahun 2023.

"Kami optimis pembangunan train 3 akan selesai pada waktunya. Progress pembangunan Train 3 sudah bagus, sudah mencapai 90% lebih. Tetapi ada dua hal yang menjadi konsen karena itu bisa menjadi kendala saat progress tidak tercapai pada waktunya. Jadi jika ingin progres pembangunan train 3 selesai pada waktunya maka dua critical tersebut harus diselesaikan," jelas Tutuka.

Senada disampaikan Kepala Satuan Kerja Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soecipto. Ia menjelaskan telah mendapatkan rencana dari BP mengenai Tangguh Train 3. Pada bulan Maret 2023 selesai dan dua bulan penambahan untuk persiapan startup dan onstream.

"Itu rencana dari bp, nah kita datang kesini mencari upaya-upaya untuk bisa mempercepat," sambung Dwi

Mantan Direktur Utama Pertamina itu juga menyoroti dua area critical yang harus diprioritaskan untuk segera diselesaikan pekerjaannya agar target dapat selesai tepat waktu.

"Kita menyarankan adanya prioritas di dalam tenaga kerja untuk lebih mefokuskan dan menangani yang critical part, area critcal part tersebut yakni, pertama di area degreasing di unit agru, kedua di kompresor," ujar Dwi.

Dua area tersebut menjadi prioritas untuk diselesaikan segera dengan menambah jumlah pekerja untuk mengerjakannya.

"Kedua area ini membutuhkan pekerja tambahan dan itu yang kita harapkan kepada EPC Contractor dan untuk bisa menyiapkan pekerja lebih banyak dan memprioritaskan untuk bisa segera diselesaikan," jelas Dwi.

BP Regional President Asia Pacific Nader Zaki menambahkan, pihaknya sekarang ini fokus untuk tetap melanjutkan pekerjaan proyek dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kritis agar dapat memastikan penyelesaian proyek Tangguh Train 3 dengan aman.

"Kami amat bangga terhadap kegigihan 12.000 pekerja kami di lapangan yang terus mendorong diri untuk melanjutkan pekerjaan proyek Train 3 dan di saat yang bersamaan, mengoperasikan lapangan penghasil gas terbesar di Indonesia," ucap Nader.

Sebagai informasi tambahan, Proyek LNG Tangguh adalah proyek produksi dan penjualan LNG yang telah direalisasikan dalam bentuk joint ventures antara British Petroleum sebagai operator, pemerintah Indonesia, kontraktor, dan, khususnya masyarakat lokal Papua Barat. Proyek ini menghasilkan LNG dari ladang gas Wiriagar, Berau, dan Muturi, di Teluk Bintuni, Papua Barat dengan luas 5.966,9 km2.

Produksi Gas Bumi Rata-rata Lapangan Tangguh tahun 2021 sebesar 1.312 MMSCFD, dan status per 14 Juni 2022 sebesar 1.162 MMSCFD.

Produksi LNG dimulai pada Juni 2009, dan kargo LNG pertama dikirim pada Juli 2009. Proyek LNG Tangguh menghasilkan 7,6 juta ton LNG setiap tahunnya melalui Train 1 dan 2.

Saat ini sedang dikembangkan proyek Train 3, dengan estimasi nilai investasi sebesar USD8,9 miliar dan akan menghasilkan 3,8 juta ton LNG per tahun. Hasil produksi Train 3 akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan gas domestik termasuk untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero).(suko)

Kredit

Bagikan