Berburu Rupiah dengan Beternak Sapi dan Buruh Tani

Kamis, 25 Juni 2020, Dibaca : 1018 x Editor : samian

Samian Sasongko
TERNAK SAPI : Manggar sedang beraktivitas mencari rumput di dekat lokasi Jambaran Central untuk memenuhi kebutuhan pakan sapinya


SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Seribu macam cara untuk membuka lapangan pekerjaan. Tak harus menjadi tenaga kerja proyek migas maupun tenaga kerja penting lainnya. Menjadi buruh tani dan peternak sapipun juga mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Seperti dilakukan Manggar, warga Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

SENJA mulai beranjak ke rembang petang di sekitar Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB), tepatnya di sumur Gas Jambaran Central. Guratan sinar Matahari mulai kemerahan di ufuk barat. Segumpal awan tipis berjalan perlahan digendong angin, seakan mengiringi Sang Bagaskara beranjak ke peraduhan.

Baca Lainnya :

    Sementara lalu-lalang mobil proyek melintas masuk lokasi Jambaran Central silih berganti. Gemuruh suara mesin rig terus terdengar seakan aktivitas proyek benar-benar tak mengenal jeda. 

    Tampak lelaki berperawakan jangkung berkaos lengan panjang warna abu-abu lengkap dengan kerudungnya tak jauh dari lokasi Jambaran Central. Terlihat tangannya sibuk mengayunkan sabit memotong rumput. Sesekali rumput yang telah terpotong dikumpulkan didekat sepeda motor dan karung warna putih dipinggir jalan setapak.

    Baca Lainnya :

      Dia adalah Manggar, warga Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Peternak sapi dan buruh tani ini mencoba bertarung di tengah hiruk pikuknya ladang gas JTB yang di operatori Pertamina EP Cepu (PEPC).

      Pria berusia 55 tahun ini tak menghiraukan suasana alam yang sebentar lagi akan beranjak petang. Dengan cekatan tangannya memasukkan rumput-rumput yang terkumpul kedalam karung putih. Sebelum diletakkan diatas jok motor yang sudah mulai rusak di sampingnya berdiri.

      Perlahan Manggar membuka cerita, selain menjadi buruh tani, dalam berburu rupiah ia menggeluti profesi sebagai peternak sapi untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

      "Tiga kali sehari mengambil rumput untuk pakan dua sapi saya, yaitu pagi, siang, dan sore," kata Manggar, ditemui Suarabanyuurip.com, Kamis (25/6/2020).

      Bekerja sebagai peternak sapi sudah dilakukannya sejak usia muda hingga sekarang. Sehingga, sudah tidak kaget lagi meskipun harus merasakan panasnya terik matahari dan bahkan kehujanan sekalipun saat mengambil rumput.

      "Kadang susahnya itu saat saya tinggal buruh tani di sawah orang, dan belum punya tandon pakan. Apalagi cuaca mau turun hujan, jadi tak mikir kondisi badan payah tetap mencari rumput," ujarnya.

      Pria yang berdomisili di Dusun Jambaran itu menambahkan, dalam beternak sapi jumlahnya tidak pernah banyak. Dua sampai tiga ekor sapi sudah dilakukan penjualan. Terpenting disisakan dan tidak dijual keseluruhan.

      "Jualnya tidak mesti, sewaktu-waktu ada kebutuhan keluarga ya dijual. Harganyapun juga tidak bisa dipastikan tinggal kondisi pasar, dan besar kecilnya sapi. Per ekor pernah juga dibeli molang (pembeli sapi) laku Rp8 juta lebih," tandasnya.

      Dia akui, menjadi seorang peternak sapi dan buruh tani sudah menjadi pilihan hidup yang harus dilakukan, sebagai salah satu upaya untuk membuka lapangan kerja sendiri. Karena tidak memiliki pekerjaan lain, jadi hanya usaha peternak sapi inilah yang harus dilakoni untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Termasuk untuk membiayai anak yang sedang sakit.

      "Seperti saya ini mau kerja apalagi to, Pak. Sawah maupun ladang tidak punya. Apalagi melamar kerja di proyek migas malah tidak bisa,” kata Manggar.

      Disadarinya, selain pengalaman di proyek migas tidak punya, usia juga sudah tua. Jadi sudah bersyukur kepada Allah dengan apa yang didapatnya dari menggeluti profesi sebagai peternak sapi dan buruh tani.

      “Saya bersyukur dengan rezeki yang saya dapat, meskipun jadi seorang buruh tani. Terpenting halal tidak merugikan orang lain," pungkas pria berkulit sawo matang ini.(sam)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more