Kejaksaan Belum Tetapkan Tersangka Kasus Jual Beli Pasar Induk Cepu

Minggu, 09 Agustus 2020, Dibaca : 808 x Editor : nugroho

Ahmad Sampurno
Kejaksaan Negeri Blora Belum tetapkan kasus dugaan korupsi jual beli kios Pasar Induk Cepu.


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Kejaksaan Negeri Blora, Jawa Tengah, sampai sekarang ini belum meningkatkan status kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pungutan liar di Pasar Induk Cepu yang terjadi pada 2018 hingga 2020. Sudah ada 30 orang yang dipanggil untuk diperiksa dalam kasus tersebut.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Blora, Rendy Indro Nursasongko, menyampaikan masih melakukan penyelidikan untuk melengkapi alat bukti dan keterangan saksi. Setelah semua bukti lengkap akan dilakasanakan geler perkara untuk menentukan apakah kasus tersebut dinaikkan ke penyidikan atau tidak.

Baca Lainnya :

    "Kalau dalam penyidikan nanti ada barang bukti dan siapa tersangkanya, pasti akan kami sampaikan ke teman-teman wartawan," ujarnya.

    Menurut Rendy kejaksaan juga belum menentukan besaran kerugian dalam kasus dugaan korupsi jual beli kios pasar daerah tersebut.

    Baca Lainnya :

      "Jumlahnya belum berani menyampaikan. Karena belum waktunya menyampaikan. Saat ini masih penyelidikan. Nanti kalau sudah tahap penyidikan, akan kami informasikan masalah kerugian," jelasnya.

      Rendy menyatakan tidak melibatkan pihak lain untuk menghitung kerugian dalam kasus tersebut.

      "Kami bisa menghitung sendiri," pungkasnya.

      Untuk diketahui, hasil jual beli Pasar Induk Cepu mencapai hampir Rp1 miliar. Nilai itu dari penjualan 15 kios. 

      Los pasar dijual ke pedagang sebesar Rp 7,5 juta. Sedangkan kios depan dihargai 75 juta. Sementara kios menghadap belakang dibandrol Rp50 juta dengan kompensasi satu los sebesar Rp5 juta.

      Jual beli kios pasar daerah ini tidak memiliki dasar aturan baik peraturan daerah (Perda) maupun peraturan bupati.(ams)



      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more