Sarankan Penyiraman Jalan J-TB Dimaksimalkan

Minggu, 23 Oktober 2016, Dibaca : 1304 x Editor : nugroho

Samian Sasongko
POLUSI DEBU : Aktivitas dump truk pengangkut material proyek yang melintas di jalan menuju lokasi J-TB.


SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro - Minimnya penyiraman jalan mulai pertigaan Dusun Gledegan, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam menuju lokasi proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur tak hanya dikeluhkan warga sekitar saja. Namun hal serupa juga disuarakan oleh pihak anggota Perhutani setempat

Penyebabnya jalan sepanjang sekira 4 kilometer lebar 5 meter dengan dibangun base course itu telah menimbulkan dampak lingkungan sekitar. Diantaranya adalah polusi debu akibat dari aktivitas kendaraan proyek yang dioperatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) tersebut.

Baca Lainnya :

    Seperti dump truk pengangkut tanah urug, pengangkut base course, dan mobil karyawan proyek keluar masuk jalur utama menuju lokasi yang masuk wilayah RPH Gledegan, BKPH Clangap, KPH Bojonegoro ini.

    Kepala Resor Pemangkuan Hutan (KRPH) atau Mantri hutan Gledegan, Sukarno, mengatakan, polusi debu itu dikarenakan penyiraman yang dilakukan perusahaan tidak maksimal. Sehingga membuat debu berterbangan ketika dihempas roda kendaraan yang sedang melintas di jalan.

    Baca Lainnya :

      Akibatnya tanaman disekitar jalan termasuk jati daunnya banyak tertempeli debu. Tidak menutup kemungkinan membuat pertumbuhan tanaman juga tidak bisa maksimal. Belum lagi pengguna jalan tentunya juga terganggu dari debu-debu ketika bersimpangan maupun dibelakang kendaraan yang sedang beraktivitas proyek J-TB.

      “Penyiraman sudah dilakukan tapi tidak maksimal, Pak. Kadang disiram, kadang kala tidak. Seharusnya sehari itu minimal tiga kali dengan tiga atau empat mobil tanki bersamaan sekali jalan saat melakukan penyiraman,” kata Sukarno kepada www.suarabanyuurip.com, Sabtu (22/10/2016).

      Dia menyarankan, PEPC selaku operator proyek J-TB untuk segera mengambil tindakan, yaitu meningkatkan penyiraman jalan secara maksimal. Karena dampak dari debu juga banyak. Tidak hanya ketanaman saja tetapi kesehatan warga juga perlu diperhatikan.

      "Pembangunan jalannya kan cuman di base course. Jadi rentan dengan polusi debu. Kalau sehabis hujan masih mending tidak begitu berdebu. Perihal ini juga sudah saya sampaikan ke humas PT Pembangunan Perumahan (PP) kontraktor PEPC. Tapi pada kenyataanya juga belum ada respon," ucapnya.

      Ditambahkan, apa yang dikatankan adalah sebagai bentuk pemberian saran jika diterima. Kalaupun tidak diterima juga tidak mempermasalahkannya.

      "Tetapi nanti saat kami bersama LMDH menanam program tanam kedelai dilahan seluas 13 hektar masuk di petak 26 A, dan lokasinya dekat dengan jalan kok masih begini jangan salahkan kalu kami mengambil sikap tegas," pungkasnya.

      "Kalau terganggu jelas, tapi mau bagaimana lagi kenyataannya seperti itu. Seharusnya ya memang disirami lebih banyak dan merata, jangan cuman yang dekat warung-warung saja yang disirami sampai basah beneran," sambung Parmin salah satu pengguna jalan secara terpisah.(sam)


      Ada 1 komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

      rajador, Minggu, 23 Oktober 2016 03:31
      Berita ini masuk dan bisa membuka semua pihak utk tdk membutakan mata dan menutup telinga. Jangan bunuh masyrkt dg debu. Jngan mentang2 proyek negara tros mengorbankan rakyat. Rakyat itu juga miliknya negara. Mana BLH selama ini juga diam tk ad gerakan turun lapangan. Apa Kalian takut dipecat hanya krn bela rakyat. Semua karyawan PEPC sak penggedene sekalian dan terkait lainnya saya tantang klu anda berani utk mengendarai sepeda motor bareng di jalan tsb disaat cuaca terang dan banyak aktivitas dump truk. Selama 1 bulan saja. Jadi Beraninya jangan hanya pake mobil saja. Saya salut pak mantri hutan jangan takut bela rakyat.

Show more