Pemkab Bantah Sapi Tuban Tularkan PMK di Rembang

user
teguh 17 Mei 2022, 17:27 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Teguh Budi Utomo

Tuban - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPP) Tuban, Jatim menampik tudingan Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Jateng yang menyebut empat ekor sapi di Desa Sidomulyo, Kecamatan  Kaliori, Rembang positif terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku  (PMK) bermula dari dua ekor sapi yang dibeli dari Tuban.

Sapi yang dibeli warga Kaliori tersebut, selanjutnya menularkan virus PMK di wilayah setempat.

Dalam berita media online yang berbasis di Jateng, Kepala Dintanpan Rembang, Agus Iwan Haswanto, menyatakan, pada 7 Mei 2022 petugas inseminator Kecamatan Kaliori melaporkan adanya temuan sapi dengan gejala seperti PMK. Dijelaskan oleh pemilik sapi, bahwa pada Jumat (29/4/2022), telah membeli dua sapi jenis limousine dari Pasar Hewan Jatirogo, Tuban dengan harga lebih murah dari umumnya.

Setelah beberapa hari di kandang, sapi tersebut mengalami gejala seperti PMK dan sapi lainnya juga mengalami hal yang sama, jelas Agus Iwan Haswanto, Jumat (13/5/2022).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Kesehatan Hewan DKPP Tuban, Pipin Diah Larasati, menampik jika penularan virus PMK yang ada di Rembang dari Pasar hewan Tuban.

Menurut Pipin, demikian ia akrab disapa, sepanjang pengamatannya di pasar hewan sampai saat ini tidak ditemukan  sapi yang bergejala klinis PMK. Walau begitu karena masa inkubasi penyakit ini satu hingga 14 hari, maka bisa jadi sapi itu, kemudian menampakkan gejala setelah beberapa hari.

“kita tidak bisa mengatakan sapi yang dibeli itu sudah sakit dari Tuban,” tegas Pipin saat dikonfirmasi wartawan di Tuban melalui pesan singkat, Selasa (17/05/2022).

Menurutnya, banyak faktor menjadi penyebab PMK, dan tak bisa mendiagnosa sapi PMK tanpa hasil uji laboratorium. Bisa juga agen penularan dari alat angkut, orang yang kontak dengan sapi, antarsapi.

Selain itu, di beberapa  kabupaten di wikayah Jateng, kabarnya juga sudah ada sapi terkonfirmasi positif PMK.

“Lakukan uji laboratorium dulu, baru bisa menyimpulkan hewan terjangkit wabah PMK atau tidak,” ujar Pipin.

Pada bagian lain, Pipin menambahkan, untuk antisipasi penyebaran virus PMK pihaknya memperketat pengawasan dan pemeriksaan kesehatan hewan di sejumlah titik pasar hewan di wilayah kerjanya. Kebijakan ini dilakukan dengan kerja sama dengan berbagai pihak terkait.

Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah, dekontaminasi yakni menghilangkan virus dengan desinfeksi alat angkut, dan sapi. Termasuk pula orang yang akan masuk pasar hewan, di dalam maupun saat akan keluar pasar.

“Kita perketat lintas hewan ternak, sambil menunggu hasil uji sampel di laboratorium untuk menentukan langkah selanjutnya,” papar Pipin. (tbu)

Kredit

Bagikan