Indonesia Butuh Suntikan Modal USD1,4 Triliun per Tahun untuk Tingkatkan Akses Energi

user
nugroho 05 Mei 2022, 21:48 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Peningkatan penyediaan akses energi diyakini mampu memaksimalkan potensi ekonomi dan sumber daya manusia (SDM) dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat hingga tingkat pengguna akhir. Namun untuk mewujudkan aksesbilitas energi ini, Indonesia membutuhkan modal USD1,4 triliun per tahun hingga 2030.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana mengungkapkan, peningkatan akses energi diupayakan akan mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat hingga pada level pengguna akhir.

"Transisi energi berkelanjutan merupakan salah satu tema dalam Presidensi G20 Indonesia dan juga menekankan pada aksesibilitas energi sebagai prasyarat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di pulau-pulau terpencil dan terluar," kata Rida dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta.

Menurut Rida, kerja sama multistakeholder akan menjadi cara tepat dalam mencapai tujuan tersebut. Langkah ini sejalan dengan penanganan dekarbonisasi energi sistem sebagai salah satu solusi mitigasi perubahan iklim.

"Ini adalah tantangan besar bagi dunia serta perlu ditangani secara kolektif oleh semua negara," tegasnya.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Prahoro Yulianto Nurtjahjo mengungkapkan, negara-negara berkembang di Afrika dan Asia menjadi pusat lokasi atas keterbatasan akses energi.

"Bahkan setidaknya ada 14 negara yang menderita tidak memiliki electricity access dan clean cooking," sambung Prahoro.

Guna mengatasi permasalahan ini, lanjut Prahoro, dibutuhkan suntikan modal besar dari para investor.

"Secara global kita butuh investasi sekitar USD30 - 35 miliar per tahun untuk (penanganan) akses listrik dan USD5 - 7 miliar per tahun untuk akses memasak bersih. Total, setidaknya kita butuh suntikan investasi USD1,4 triliun per tahun hingga 2030 untuk dua isu tersebut," urainya.

Tekanan di Negara Berkembang

 Lanskap masalah dan sistem energi yang beragam menjadi tantangan tersendiri bagi negara berkembang dan emerging economies. Untuk itu, peningkatan dan peluasan akses energi di negara-negara tersebut harus menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan, tantangan, hingga kapasitas wilayah yang ditetapkan.

"Setiap kebijakan, program, dan efektivitas aksi harus dilakukan melalui model bisnis dan instrumen pembiayaan yang inovatif," kata Prahoro.

Kebutuhan adopsi akan pilihan teknologi yang inovatif juga diperlukan dengan tetap mempertimbangkan pula keragaman sumber energi lokal.

"Inovasi teknologi ini harus didukung oleh lingkungan dan iklim bisnis yang lebih baik untuk menciptakan lebih banyak peluang, melibatkan pemangku kepentingan terkait, dan memanfaatkan keunggulan kemitraan publik-swasta," tambahnya.

Ia menekankan pencapaian pencapaian akses energi berkelanjutan harus sejalan dengan pencapaian transisi energi yang adil dan merata.

"Aspek pemerataan people-centered transitions dapat dipastikan melalui perencanaan program dan implementasi yang terukur dalam memenuhi Standar Minimum Energi Modern," tegasnya.

Standar baru ini diharapkan dapat mendukung emerging market dan negara berkembang, termasuk negara kurang berkembang untuk meningkatkan tingkat pembangunan, mencukupi kebutuhan sosial ekonomi, dan menciptakan peluang ekonomi bermanfaat lainnya untuk pertumbuhan berkelanjutan, termasuk pekerjaan yang layak dan mata pencaharian yang berkualitas.

Menurut Prahoro, Forum G20 diharapkan memiliki potensi besar untuk menjadi faktor kunci untuk mendorong pencapaian akses energi dalam aksi dekade ini. Pertumbuhan ekonomi yang layak dan prospek pasar yang menjanjikan harus dikombinasikan dengan inovasi dalam bisnis, teknologi, dan pembiayaan akan merangsang investasi lebih lanjut dan kemitraan internasional dalam akses energi berkelanjutan.

"Kami berencana untuk memperkuat rekomendasi, praktik, dan pengalaman dalam akses energi berkelanjutan dalam memperkuat hasil utama ETWG G20 di tingkat Menteri. Harapannya, kebutuhan ini dapat dipromosikan ke forum Pemimpin G20 sebagai bagian integral dari G20 Comprehensive Exit Strategy to Support Recovery," jelas Prahoro.(suko)


Kredit

Bagikan