Tiga Strategi Subholding Upstream Pertamina Pertahankan Produksi

user
nugroho 26 April 2022, 00:26 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta – PT Pertamina Hulu Energi telah menerapkan tiga strategi utama dalam eksplorasi untuk menemukan sumber daya baru sebagai upaya mempertahankan produksi migas. Hasilnya, hingga Maret 2022 telah berhasil menemukan sumber daya migas dengan melakukan pemboran sebanyak 2 sumur yaitu Sungai Gelam Timur-1 (SGET-1) dan Manpatu-1X.

Direktur Eksplorasi Subholding Upstream Pertamina Medy Kurniawan menjelaskan tiga strategi utama eksplorasi. Yakni berupa aset wilayah kerja (WK) eksisting dimana kontribusi eksplorasi dibutuhkan dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi migas eksisting. Kedua, strategi New Ventures yakni mencari potensi eksplorasi yang baru. Terakhir, strategi partnership untuk sharing risk & cost serta technology & knowledge transfer melalui akselerasi proses kerja sama dan joint bidding domestic serta luar negeri.

Medy menegaskan, Subholding Upstream Pertamina telah melakukan eksplorasi secara masif agresif. Hingga Maret 2022 ini telah melakukan pemboran sebanyak 2 sumur yaitu Sungai Gelam Timur-1 (SGET-1) dan Manpatu-1X yang berhasil menemukan sumber daya migas.

"Kita juga sedang melakukan pemboran di Camelia-001, Sungai Rotan-1, BDA-2X, Wiela-001 di wilayah Sumatera dan Phoenix-1 di wilayah Kalimantan dengan rencana sepanjang 2022 akan dilakukan pemboran sumur eksplorasi sebanyak 29 sumur," jelasnya, Senin (25/4/2022).

Selain melakukan pemboran di wilayah kerja eksisting, lanjut dia, Subholding Upstream Pertamina juga melakukan kegiatan New Ventures di wilayah terbuka dalam pemenuhan Komitmen Kerja Pasti WK Jambi Merang (KKPJM).

‘’Kegiatan new ventures di wilayah terbuka ini bertujuan mendapatkan wilayah kerja eksplorasi baru untuk mencari potensi giant discovery,’’ tambah Medy.

Inisiasi partnership dengan NOC/IOC melalui Joint Study Agreement (JSA) yang difokuskan pada Area of Interest hasil dari KKPJM sementara ini yang sudah ditemukan sebanyak 7 area dari kegiatan 2D seismic sepanjang 32.215 km dan 5 regional study G&G  meliputi dari 123 cekungan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam melakukan kegiatan eksplorasi, Subholding Upstream menerapkan beberapa teknologi terkini, antara lain 2D Seismic Broadband dengan panjang lintasan lebih dari 30.000 km yang merupakan Survei Seismic Offshore terpanjang di Asia Pacific selama 10 tahun terakhir, 2D Vibroseis Acquisition di Subvulkanik Jawa, Pseudo 3D Seismic Reprocessing, dan survey eFTG-FTG atau Full Tensor Gradiometry. Teknologi eFTG (enhanced) ini baru pertama kali digunakan di Indonesia  dan dilakukan di wilayah Papua, tepatnya di Kepala Burung, dan survey FTG dilakukan di Akimeugah.

‘’Selain strategi new venture dan partnership di wilayah terbuka, penerapan teknologi tepat guna  dibutuhkan dengan tujuan untuk  mengurangi subsurface uncertainty sehingga target dapat tercapai,’’ pungkas Medy.

Untuk diketahui, Pertamina Hulu Energi sebagai Subholding Upstream Pertamina menaungi wilayah kerja hulu Pertamina di Indonesia dan juga luar negeri.(suko)


Kredit

Bagikan