Lifting Migas Jabanusa Andalan Nasional

user
nugroho 01 April 2022, 22:07 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - d suko nugrobo

Jakarta - Lifting migas wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) merupakan andalan dalam menopang lifting migas nasional. Kontribuasi lifting migas kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Jabanusa mencapai 24,4% dari total lifting nasional. Porsi terbesar di Indonesia.

Di wilayah Jabanusa terdapat Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu dengan produksinya mencapai di atas 200 ribu barel per hari (bph). Juga Lapangan Gas Jambaran - Tiung Biru (JTB) yang ditargetkan bisa produksi sebesar Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). Kedua lapangan migas tersebut berada di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Lifting migas Jabanusa berpotensi untuk terus ditingkatkan dan sekaligus mendukung target jangka panjang 2030, yakni produksi 1 juta barel minyak bumi per hari dan 12.000 mmscf.

“Capaian produksi dan lifting migas di KKKS Jabanusa sangat baik untuk minyak, tetapi memang ada tantangan untuk gas. Pertemuan ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi Kontraktor KKS untuk dapat menyampaikan keluhan kepada Kepala SKK Migas secara langsung dan usulan-usulannya untuk peningkatan produksi migas di setiap KKKS untuk mendukung tercapainya target 2022 dan jangka panjang 2030,"  ujar Kepala SKK Migas perwakila Jabanusa, Nurwahidi dalam acara koordinasi operasi produksi bersama 10 KKKS dengan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di Surabaya, Selasa (29/3/2022) lalu.

Dalam arahannya, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyampaikan bahwa kontribusi migas Jabanusa terhadap nasional tahun ini dan tahun depan masih menjadi yang terbesar. Namun dalam jangka panjang termasuk dalam konteks target 2030 kontribusinya menurun.

"Potensi migas di Jabanusa masih menarik, serta sudah siapnya infrastruktur serta industri penggunanya, maka perlu dilakukan upaya untuk dapat meningkatkan kembali produksi migas di wilayah ini," kata Dwi dalam keterangan tertulisnya.

Mantan Direktur Utama Pertamina itu menambahkan, melihat potensi migas yang cukup besar, mengajak KKKS Jabanusa untuk meningkatkan investasi dan mensegerakan temuan lapangan migas untuk segera di lakukan plant of development (POD). Di Jabanusa juga masih ada potensi dari sumur-sumur tua, lapangan marginal dan lainnya.

Untuk itu dirinya meminta kepada KKKS mengajukan proposal pengembangan ke SKK Migas, untuk kemudian dibahas bersama dan direalisasikan.

“Paradigmanya bukan lagi lapangan tidak ekonomis, tetapi apa yang harus dilakukan, kebutuhan dan dukungan apa dari Pemerinah agar lapangan menjadi ekonomis. Kita akan berjuang bersama-sama untuk bisa merealisasikannya," tegas Dwi.

Harga minyak dunia diperkirakan masih akan pada posisi yang tinggi dalam waktu yang lama. Menurut analisa Rystad di bulan Februari 2022, kata dia, harga minyak dalam jangka pendek akan berada dikisaran US$ 128 per barel dan dalam jangka panjang di angka US$ 80 dolar.

“Menyikapi harga minyak yang tinggi, langkah jangka pendek, KKKS bisa melakukan percepatan penerapan new KSO dan no cure no pay pada kegiatan reaktivasi sumur atau rejuvenasi lapangan. Dalam jangka panjang, dengan harga minyak yang masih tinggi, maka menjadi kesempatan untuk melakukan investasi.Saya rasa jumlah sumur pemboran di KKKS Jabanusa bisa ditingkatkan lagi, kegiatan workover dan well service juga bisa ditingkatan. Selain itu, kegiatan eksplorasi juga bisa ditambah," terang Dwi.

Pihaknya mengingatkan, selain upaya meningkatkan jumlah program dan kegiatan, juga harua menjaga operasional hulu migas yang ekselen. Terkait hal tersebut, Dwi meminta agar kegiatan perawatan fasilitas produksi dijaga dengan baik.

“Jangan sampai, kerja keras kita untuk melakukan kegiatan yang paling optimal untuk meningkatkan produksi migas, kemudian terkendala dengan adanya unplanned shutdown, akibatnya tentu kita akan kehilangan jam kerja, kehilangan produksi dan lifting migas. Kita akan lakukan audit operational maintenance untuk mencegah terjadinya unplanned shutdown," pesannya.

Dwi melanjutkan sehubungan dengan jadwal onstream proyek Jambaran - Tiung Biru (JTB) pada bulan Agustus 2022 mendatang, maka saat ini ada kekurangan pasokan gas untuk pupuk sekitar 20 MMSCFD – 30 MMSCFD. Dari kunjungan kerja ke Saka Pangkah dan juga Petronas, ada gas yang belum terserap.

"Saya minta, pada forum ini seluruh Kontraktor KKS yang hadir bisa menyampaikan gas bumi yang belum terserap, serta potensi gas bumi yang bisa ditingkatkan," harapnya.

“Gas-gas tersebut sampai Agustus 2022 akan disalurkan ke industri pupuk. Sehubungan dengan akan tersambungnya pipa gas ke Cirebon dan Semarang di tahun 2023, maka potensi gas Jabanusa kedepannya dapat dikirim ke Jawa Tengah dan juga ke Jawa Barat yang masih sangat kekurangan gas”, terang Dwi.

Dalam kegiatan koordinasi tersebut, KKKS menyampaikan beberapa kendala dan masukan untuk mendukung upaya peningkatan produksi migas di Jabanusa. Beberapa hal yang menjadi perhatian dan kebutuhan KKKS adalah serapan gas yang masih menjadi tantangan karena infrastruktur gas pipa belum tersambung ke daerah operasi di KKKS, monetisasi gas ke pembeli yang masih terkendala. Kemudian yang perlu ditingkatkan adalah koordinasi dan sinkronisasi kegiatan non teknis dengan instansi terkait dalam mendukung pemboran.(suko)

Kredit

Bagikan