Dampak Konflik Rusia dan Ukraina, Harga Minyak Mentah di Atas 100 Dollar Per Barel

user
nugroho 29 Maret 2022, 22:24 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Konflik antara Rusia dan Ukraina membuat tren harga minyak mentah meningkat hingga di atas 100 dollar per barel. Naiknya harga minyak mentah juga karena keengganan Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya untuk meningkatkan produksi migas.

"Sehingga, dipastikan akan memicu eskalasi harga crued oil pada level yang lebih tinggi di atas 100 dollar per barel," kata Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto.

Dia mengatakan, dampak negatif dari pergerakan harga minyak bumi di pasar global tidak hanya dirasakan oleh Indonesia sebagai net importer. Akan tetapi, juga dirasakan negara-negara lainnya bahkan negara maju yang tergabung di dalam Uni Eropa.

"Dalam kondisi seperti ini, maka defisit neraca transaksi berjalan sektor energi sebagaimana yang terjadi pada tahun 2018 menjadi sebuah keniscayaan," katanya, Selasa (29/3/2022).

Mengingat 50 persen lebih dari crued oil atau minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan kilang di dalam negeri dilakukan melalui impor. Karena itu, sangat wajar apabila BBM elpiji dan solar berkaitan dengan pergerakan harga crude oil di pasar global.

"Juga, persoalan lainnya adalah penerapan harga bahan bakar minyak (BBM) seperti elpiji dan solar akan mendorong timbulnya renteging dan illegal trading akibat adanya disparitas harga yang lebar," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Ditjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Tutuka Ariadjie mengatakan, tiga bulan terakhir harga minyak rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 98,28 dollar per barel.  Pemicu pergerakan harga minyak adalah adanya kemajuan upaya damai dalam konflik perang Rusia Ukraina.

"Sementara realisasi ICP sampai dengan 20 Maret 2022 adalah 114,68 dollar AS per barel setengah nilai tukar rupiah yang stabil pada kisaran Rp 14.300," katanya

Dia mengatakan, harga minyak mentah dan gas bumi tentunya masih akan dipenuhi oleh kondisi global. Meski, saat ini harga minyak mentah belum masuk pada puncak gangguan.

"Namun, diperkirakan gangguan baru akan terjadi di April mendatang akibat dampak dari larangan impor minyak dari Rusia oleh beberapa negara," katanya.(jk)

Kredit

Bagikan