Komisi VII Berharap Proyek Kilang Tuban Tak Terpengaruh Konflik Rusia - Ukraina

user
nugroho 09 Maret 2022, 11:06 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Komisi VII DPR RI meminta pemerintah Rusia tetap melanjutkan proyek kilang minyak baru atau New Grass Root Refinery (NGRR) Tuban, Jawa Timur. Permintaan komisi dewan yang membidangi masalah energi ini disampaikan menyusul sikap sejumlah negara yang melarang produk Rusai akibat serangan ke Ukraina.

"Akibat konflik tersebut, barat melakukan banned produk Rusia. Hal ini mungkin saja ikut terkena imbas. Salah satunya proyek Pertamina Rosneft di Tuban. Saya berharap proyek ini terus jalan dan tidak terpengaruh konflik Rusia," ujar Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto usai menerima Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (7/3/2022) kemarin.

Sugeng mengaku prihatin terjadinya konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina. Ia menegaskan, apapun alasannya penggunaan militer tidak dibenarkan. Selain itu konflik Rusia tersebut juga menimbulkan implikasi atau dampak bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Di antaranya harga energi yang meningkat tajam, dimana gas bumi mencapai 775 dolar AS per metrik ton. Sementara harga minyak dunia per hari ini mencapai 130 dolar AS per barel. Sehingga membuat Pertamina menaikan harga BBM non-subsidi.

"Rusia penyumbang minyak dunia terbesar di luar OPEC. Hampir 30 persen minyak dunia dari Rusia. Dengan adanya konflik ini tentu berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Belum lagi, berbagai proyek kerja sama di bidang energi antara Rusia dan Indonesia," tutur Politisi NasDem ini melalui keterangan tertulisnya.

Oleh karena itu, mantan Direktur PT Surya Energi Raya (SER), mitra BUMD Bojonegoro dalam pengelolaan PI Blok Cepu ini berharap agar ada dialog antara kedua belah pihak. Sehingga konflik Rusia-Ukraina dapat segera disudahi, dan perdamaian pun dapat kembali tercipta. Meski sempat dikatakan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa target serangan Rusia sejatinya hanya militer Ukraina, namun tidak dapat dipungkiri serangan itu juga mengenai warga sipil yang tidak bersalah.

Bersitegangnya Ukraina dan Rusia, tambah Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Dony Maryadi Oekon menjadi penyebab melonjaknya harga minyak bumi, dan situasi ini dapat menjadi beban yang berat bagi Indonesia.

“Ini beban yang sangat berat, karena kita masih mengkondisikan harga tidak terikat kepada harga minyak dunia. Akhirnya, pemerintah harus mengeluarkan dana untuk subsidi BBM. Ini beban yang sangat berat untuk kita,” timpal Dony.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva menjelaskan Rusia terpaksa mengambil jalan tersebut didesak situasi terpojok. Dimana eskalasi kekuatan Barat, dalam hal ini NATO, yang membangun afilliasi dengan Ukraina. Berkali-kali Rusia memberi peringatan terhadap Ukraina, agar jangan sampai ada militerisasi yang berjarak hanya beberapa miles dari Moskow. Tapi peringatan itu diabaikan dan tetap dibangun kekuatan barat secara terang-terangan. Di antaranya dengan dikirim peralatan militer, latihan militer antara Ukraina dan NATO. Hal ini menunjukan Ukraina menjadi bagian dari Barat untuk merongrong kewibawaan Rusia.(suko)

Kredit

Bagikan