Konflik Rusia dan Ukraina Berakibat ICP Meningkat Empat Kali Lipat

user
nugroho 25 Februari 2022, 20:58 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Konflik antara Rusia dan Ukraina membuat tren harga minyak mentah Indonesia (ICP) meningkat hingga 4 kali lipat lebih. ICP semenjak awal pandemi 2020 lalu berada pada US$20/barel, kini meningkat mencapai US$85,9/barel per Januari 2022.

"Tren akan semakin meningkat setelah konflik terbaru Rusia dan Ukraina hari ini," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi di Jakarta, melalui keterangan resminya, Kamis lalu.

Tren harga minyak dunia terus meningkat, demikian halnya dengan Indonesia Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia. ICP yang sejak awal pandemi atau April 2020 berada pada US$20/barel, kini meningkat lebih dari 4 kali lipat hingga mencapai US$85,9/barel per Januari 2022.

"Di sisi lain, asumsi ICP dalam APBN 2022 hanya sebesar US$63/barel. Tren akan semakin meningkat setelah konflik terbaru Rusia dan Ukraina hari ini.

"Hari ini sebagaimana diketahui, konflik Rusia dan Ukraina yang terjadi di tengah pandemi Covid, semakin membuat tren harga minyak yang sudah meningkat, akan semakin meningkat," katanya.

Agung mengatakan, saat ini harga minyak semakin melambung. Harga minyak Brent hari ini sudah tembus di atas US$100 per barel. Di sisi lain asumsi ICP dalam APBN 2022 hanya US$63 per barel.

"Ini terus kami monitor dan perlu menjadi perhatian semua pihak," jelas Agung.

Tren kenaikan harga, dan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, terus menjadi perhatian Pemerintah. Adapun sebagian minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia masih impor.

ICP dalam 6 bulan terakhir menunjukkan tren kenaikan, dimulai pada Agustus 2021 sebesar US$67,8/barel dan terus meningkat. Dia mengatakan, setiap bulannya mulai Januari 2022, yaitu US$72,2/barel (Sep), Oktober US$81,8/barel, November US$ 80,1/barel, Desember US$73,4/barel, dan pada Januari 2022 sebesar US$85,9/barel.

"Jika dilihat lebih jauh, kenaikan mulai terjadi pasca ICP rendah pada April 2020 sekitar US$20 per barel," katanya sebagaimana dikutip dari laman www.esdm.go.id.(jk)

Kredit

Bagikan