Di Presidensi G20, Luhut : Transisi Energi Harus Berkeadilan

user
nugroho 12 Februari 2022, 17:38 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com -  d suko nugroho

Jakarta - Transisi energi harus dilaksanakan secara berkeadilan dan seminimal mungkin memberikan dampak yang negatif terhadap masyarakat. Pemerintah Indonesia akan mendorong industri yang lebih hijau. Sebagai contoh, akan dibangun kawasan industri hijau di Kalimantan Utara.

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mewakili Presiden RI, Joko Widodo pada Peluncuran Transisi Energi G20 secara virtual.

Menurut Luhut, transisi energi dipastikan akan memunculkan perubahan paradigma pasti yang berdampak pada perubahan pekerjaan, skenario pembangunan, orientasi bisnis dan sebagainya.

"Jadi kita ingin yang berkeadilan. Yang bebannya berat harus dibantu, (negara) yang siap silakan jalan sendiri, selain membantu yang belum mampu. Kita harus didukung penuh oleh kerja sama global yang kuat. Ini akan kita bangun di G20 Indonesia. Inilah yang kita maksud dengan global deal," ujarnya dikutip dari situs resmi KESDM.

Selain itu, sebagai bagian dari transisi energi, Pemerintah Indonesia akan mendorong industri yang lebih hijau. Sebagai contoh, akan dibangun kawasan industri hijau di Kalimantan Utara. Untuk itu dibutuhkan peran investasi dan kontribusi swasta, filantropi, serta bentuk-bentuk pendanaan inovatif yang bisa berkomitmen pendanaan US$100 miliar per tahun dari negara maju bagi negara berkembang untuk transisi energi. Menko Marves akan menagih kesepakatan global alias global deal tersebut.

"Saya akan meminta komitmen global dari masing-masing G20 leader untuk bersama-sama menyepakati percepatan transisi energi," tegasnya.

Transisi Energi G20 diluncurkan sebagai bagian Presidensi G20 Indonesia yang dimulai 1 Desember 2021 hingga KTT G20 di November 2022. Presidensi ini menjadi sangat penting bagi Indonesia sebagai warga global yang mempunyai peran penting mendukung energi bersih dan iklim dunia. Pada Forum G20 Indonesia, transisi energi akan fokus pada tiga hal yaitu akses, teknologi dan pendanaan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyampaikan Forum ini diharapkan menjembatani fokus Indonesia mendorong negara maju dan berkembang pada keanggotaan G20 untuk mempercepat proses transisi energi serta memperkuat sistem energi global yang berkelanjutan.

"Transisi Energi G20 diharapkan akan menghasilkan hasil persidangan G20 yang lebih konkrit guna memperkuat sistem energi global yang berkelanjutan, serta transisi energi yang berkeadilan dalam konteks pemulihan berkelanjutan," kata Arifin dalam sambutannya.

Arifin melanjutkan dengan mengangkat tiga isu prioritas, yaitu akses, teknologi, dan pendanaan diharapkan dapat mencapai kesepakatan global dalam mengakselerasi transisi energi.

Melalui forum ini pula, Indonesia mampu menghimpun komitmen global yang lebih kuat dalam rangka mencapai target global pada akses energi yang ditargetkan Agenda 2030 sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

"Hasil Utama atau Lighthouse Deliverable inilah yang diharapkan oleh Presidensi Indonesia sebagai tindak lanjut aksi-aksi pasca-COP26 dan Presidensi G20 sebelumnya, dalam rangka mencapai Karbon Netral, yang Indonesia telah targetkan pada 2060, atau lebih cepat lagi dengan dukungan riil dari komunitas internasional," jelas Arifin.

Dukungan Organisasi Internasional

Komitmen Indonesia mengupayakan kesepakatan global (global deal) dalam mengakselerasi percepatan transisi energi mendapat dukungan penuh dari sejumlah organisasi internasional.

Sebagai negara yang memiliki pengaruh di kawasan Asia Tenggara atas isu-isu energi global, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengatakan Indonesia punya pengaruh kuat di Kawasan Asia Tenggara atas isu-isu energi global.

"Sebuah kehormatan bagi saya dan IEA untuk mendukung agenda Indonesia apalagi sebagai negara berkembang pertama yang menjadi Presidensi G20. Apalagi saya dan Menteri ESDM tengah menjalankan kolaborasi Indonesia-IEA dan IEA dipercaya sebagai (salah satu) strategic advisor bagi pemerintah Indonesia dalam Presidensi G20 pada agenda Transisi Energi," kata Fatih.

Fatih bahkan mengapresiasi secara khusus kepada Presiden RI atas kebijakan-kebijakan mengatasi permasalahan pandemi Covid-19 dan secara spesifik memilih isu transisi energi sebagai agenda utama pada G20. "Kepemimpinan Presiden Indonesia menghadapi pandemi sungguh menjadi inspirasi bagi para pemimpin dunia. Saya senang Presiden Indonesia kali ini mengangkat transisi energi ke high level meeting G20," jelasnya.

Dukungan lain juga diberikan oleh Internasional Renewable Energy Agency (IRENA). "Saya senang transisi energi diidentifikasikan sebagai isu prirotas pada Presidensi G20 Indonesia. Melalui forum ini, Indonesia memiliki kesempatan tidak hanya untuk mendorong momentum politik tetapi juga menunjukkan kepemimpinan transisi energi melalui aksi. Saya menyambut baik komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat," jelas Director General IRENA Francesco La Camera.

La Camera menegaskan, perjanjian kemitraan yang ditandatangani antara IRENA dan Indonesia selama COP26 menegaskan kesiapan IRENA untuk mengerahkan kemampuan penuhnya untuk bekerja sama dengan Indonesia.

"Kami siap membantu Anda baik dalam konteks Presidensi G20 dan dalam hal pencapaian tujuan transisi energi nasional yang lebih luas serta memobilisasi pembiayaan dan investor," ungkapnya.

Guna pemulihan yang lebih cepat dan lebih kuat dari dampak Covid-19 dan menyelaraskan dengan masa depan net zero, Fransesco mendorong sistem energi terbarukan.

"Sebuah sistem yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan dan berkeadilan. Yang membebaskan kita dari volatilitas dan ketidakstabilan hari ini. Sistem dengan energi terbarukan, hidrogen hijau, dan bioenergi modern," jelas La Camera.

Sementara itu, United Nations The Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) juga menegaskan dukungan penuh terhadap Presiden G20 Indonesia dalam mengusung isu transisi energi.

"ESCAP sangat mendukung upaya aspirasi Indonesia sebagai anggota ESCAP dalam mendorong energi berkelanjutan. Kami akan membantu secara teknis rencana aksi terhadap implementasi energi bersih di negara berkembang yang difokuskan pada negara-negara kepulauan. Dukungan terhadap Indonesia ini akan diberikan secara maksimal," ujar Sekretaris Eksekutif ESCAP Arsmida S Alisjahbana.(suko)

Kredit

Bagikan