Lifting Minyak Blok Cepu Turun, DBH Migas Bojonegoro 2022 Ditarget Rp 1,2 Triliun

user
nugroho 11 Februari 2022, 07:58 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro - Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur memasang target dana bagi hasil (DBH) migas sebesar Rp 1,2 triliun di tahun ini. Naik turunnya target DBH migas ini dipengaruhi kondisi lifting nasional.

Kabid Perimbangan dan PAD Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Achmad Suryadi mengatakan, target DBH migas yang dipasang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dipengaruhi kondisi lifting migas nasional.

"Tahun ini Pemkab Bojonegoro memasang target DBH migas sebesar Rp 1,2 triliun," kata Kabid Perimbangan dan PAD Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Achmad Suryadi.

Target penerimaan DBH migas tahun ini mencapai Rp 1,2 triliun meningkat dibanding semenjak dua tahun terakhir. Naiknya DBH migas tahun ini karena lifting dan harga minyak mentah dunia sudah stabil.

"Sebelumnya pada 2020 lalu turun drastis karena dampak pandemi Covid-19," katanya.

Turunnya harga minyak mentah dunia, lanjut dia, juga mempengaruhi target DBH migas. Misalnya, lanjut dia, pada 2020 lalu target yang dipasang hanya Rp 579 miliar karena tidak pergerakan ekonomi saat pandemi Covid-19.

Dia mengatakan, mulai 2021 kondisi harga minyak mulai normal sehingga DBH migas ditaget sebesar Rp 1,08 triliun. Sementara, untuk tahun ini targetnya mencapai Rp 1,2 triliun.

Dia mengatakan, untuk lifting pemkab masih mengikuti target tahun lalu yakni 2021 atau 83,991 barel oil per day (BOPD) di triwulan dua. Meski, target lifting diperkirakan akan turun sekitar 79 BOPD.

"Namun, tergantung penentuan hasil rapat pada Maret mendatang," katanya, Kamis (10/2/2022).

Menurut Suryadi, lifting itu bersumber dari dua lapangan minyak di Bojonegoro. Pertama Lapangan Banyu Urip atau ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan Pertamina EP Asset 4 Field Sukowati.

Sebelumnya, Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto menyampaikan liftingi minyak atau minyak siap jual dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, yang dikelola EMCL terus mengalami penurunan. Dari sebesar 217.617 barel per hari (bph) pada tahun 2020, turun menjadi 203.525 bph di 2021.

"Menurunnya produksi ini dikarenakan meningkatnya kandungan air di Blok Cepu," kata Dwi saat menyampaikan 15 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) besar penyumbang lifting minyak nasional pada rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (2/2/2022) lalu.

Berdasarkan data yang dipaparkan, Dwi melanjutkan, target lifting Blok Cepu pada APBN 2021 sebesar 219.000 bph, namun terealisasi 92,90% atau sebesar 203.525 bph. Sementara pada tahun 2022 ini, target lifting Blok Cepu yang dipasang di APBN sebesar 182.000 bph.

"Namun berdasarkan perhitungan angka teknis sesuai WP&B dipasang 170.711 bph," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto, mengatakan lifting migas dalam perhitungan besaran penerimaan negara 2021 mencapai 660,25 MBOPD untuk minyak atau tercapai 93,65 persen dari target dan 981 MBOEPD untuk gas. Yakni dengan ICP rata-rata 68,47 dollar per barel atau capaian 152 persen dari target.

Dia mengatakan, tidak tercapainya target lifting migas tersebut karena rendahnya posisi awal low entry point pada 2021 dan tertundanya lapangan-lapangan tertentu pada beberapa proyek. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan optimalisasi produksi pada lapangan existing.

Juga, percepatan transformasi resort menjadi produksi mempercepat plan of development (POD) atau pengembangan lapangan yang tertunda serta peningkatan bidang eksplorasi untuk menemukan cadangan baru.

"Ini juga untuk mendorong ekspor secara masif guna mendukung tercapainya visi 1 juta barel per hari pada tahun 2030," katanya.(jk)

Kredit

Bagikan