Kontribusi PNBP Sektor Migas Tahun 2021 Capai Rp 97,98 Triliun

user
nugroho 07 Februari 2022, 19:22 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro - Kontribusi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di sektor migas tahun lalu mencapai Rp 97,98 triliun atau 130 persen dari target APBN. Hal tersebut, disampaikan Ketua Komisi VII DPR-RI, Sugeng Suparwoto saat memimpin hearing bersama SKK Migas.

Pimpinan rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto, mengatakan kontribusi PNBP di sektor migas untuk penerimaan negara di 2021 mencapai Rp 97,98 triliun dari target APBN. Peningkatan PNBP sektor migas ini, disebabkan kenaikan harga minyak bumi di pasar global yang mencapai 90 dollar per barel.

"Sehingga mendorong ekskalasi nilai Indonesia Crude Price (ICP) rata-rata mencapai 68,47 dolar per barel," katanya sebagaimana dikutip di Facebook Komisi VII DPR RI.

Dia mengatakan, kinerja positif karena berhasil mencapai target-target yang ditetapkan di antaranya pemanfaatan gas bumi untuk domestik dan penerimaan negara terutama PNBP sektor migas. Pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan negeri pada 2021 mencapai 66 persen sedikit di atas target yang ditetapkan pemerintah sebesar 65 persen sehingga capaian kinerja 101 persen.

Pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri kedepan akan terus ditingkatkan. Hal ini, dia melanjutkan, untuk mendukung tumbuh kembangnya industri dalam negeri dan juga catatan bahwa gas adalah meskipun fosil tidak terbarukan termasuk energi yang bersih.

"Sementara lifting migas dalam perhitungan besaran penerimaan negara 2021 mencapai 660,25 MBOPD untuk minyak atau tercapai 93,65 persen dari target dan 981 MBOEPD untuk gas. Yakni dengan ICP rata-rata 68,47 dollar per barel atau capaian 152 persen dari target," katanya.

Dia mengatakan, tidak tercapainya target lifting migas tersebut karena rendahnya posisi awal low entry point pada 2021 dan tertundanya lapangan-lapangan tertentu pada beberapa proyek. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan optimalisasi produksi pada lapangan existing.

Juga, percepatan transformasi resort menjadi produksi mempercepat plan of development (POD) atau pengembangan lapangan yang tertunda serta peningkatan bidang eksplorasi untuk menemukan cadangan baru.

"Ini juga untuk mendorong ekspor secara masif guna mendukung tercapainya visi 1 juta barel per hari pada tahun 2030," katanya.

Sementara itu,  SKK Migas, Dwi Soetjipto, menuturkan, ada 6 Key Performance Indicator (KPI) yang harus dikerjakan. Pertama adalah mengenai Reserve Replacement Ratio di 2021 masih bisa dipertahankan yakni 116 persen dengan 696 juta barel tambahan.

"Kemudian lifting mencapai 660,25 MBOPD untuk minyak atau tercapai 93,65 persen dari target dan 981 MBOEPD untuk gas. Yakni dengan ICP rata-rata 68,47 dollar per barel atau capaian 152 persen dari target," katanya.(jk)

Kredit

Bagikan