Naker Berkurang, Omzet Penjual Mamin Sekitar JTB Menurun Drastis

user
samian 30 Januari 2022, 12:13 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Sami'an Sasongko

Bojonegoro - Berkurangnya tenaga kerja (Naker) proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang berpusat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak hanya membuat ribuan naker kehilang pekerjaan, omzet penjual makanan dan minuman (Mamin) ringan sekitar proyek JTB juga mengalami penurunan drastis.

Salah satu penjual Mamin, Endang mengatakan, sejak menjelang akhir tahun 2021 kondisi penghasilan yang didapat dari menjual makanan dan minuman ringan mulai menurun. Sebab biasanya banyak naker yang membeli sekarang berkurang.

"Dampak dari berkurangnya naker tentu ada. Karena mayoritas kan naker JTB yang pada jajan makan dan minum kopi dan lainnya. Sekarang sepi, jadi tahun ini omzet menurun drastis," kata Endang, kepada SuaraBanyuurip.com.

Warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam, ini menjelaskan, berjualan di sekitar lokasi proyek Gas JTB sudah sejak tahun 2019 hingga sekarang. Dua tahun lalu pendapatan yang diperoleh total belum kepotong modal mampu tembus Rp800.000 per hari.

"Sekarang sehari mendapatkan Rp400.000 saja susah. Itu saja belum kepotong modal," ucapnya.

Meski omzet menurun, lanjut Endang, berjualan Mamin tetap diteruskan, karena sudah menjadi aktivitas sehari harinya sejak dulu dibukanya proyek migas Banyu Urip, Blok Cepu.

"Usaha jualan Mamin tetap saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Berapapun hasil yang didapat tak syukuri saja. Penting tidak merugikan orang lain," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, jumlah naker di proyek JTB terus terjadi pengurangan seiring menjelang selesainya proyek yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Hingga Desember 2021 lalu, sebanyak 2.276 naker di JTB kehilangan pekerjaan. Selain perusahaan telah kehabisan kontrak kerja, proyek JTB ini juga akan segera selesai pada bulan Maret.

Pengurangan jumlah naker terjadi sejak Juni 2021 hingga saat ini. Kemungkinan, mendekati selesainya proyek ini pada Maret 2022 mendatang pengurangan akan semakin banyak.

Sebab, jika dihitung mulai Maret jumlah rekapitulasi naker di JTB sebanyak 7.054. Kini, per Desember 2021 lalu jumlahnya tinggal 4.778 naker.

"Sehingga, sudah ada 2.276 naker telah kehilangan pekerjaan. Namun, data ini dinamis karena naker pindah ke perusahaan lain jika perusahaan sebelumnya kontraknya habis," kata Kabid Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bojonegoro Slamet.(sam)

Kredit

Bagikan