Muncul Lagi Wacana Bojonegoro Ingin Kelola Gas Flare Lapangan Banyu Urip

user
nugroho 17 Januari 2020, 20:09 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Wacana pengelolaan gas suar bakar (flare) dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kembali menyeruak.

"Saat Pemkab Bojonegoro rapat dengan EMCL, saya mendengar ada usulan itu (mengelola gas flare)," kata sumber terpercaya suarabanyuurip yang meminta identasnya tak disebutkan.

Namun, untuk memastikan kabar tersebut, suarabanyuurip.com kemudian melakukan konfirmasi ke Kepala Bagian Perekonomian Bojonegoro, Darmawan. Namun Ia tidak mau menjawab ihwal kabar tersebut.

Menanggapi kabar tersebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, mengaku tidak memiliki wewenang untuk memberi jawaban.

"Kalau perkembangan usulan tersebut, saya kira itu lebih ke Pemkab Bojonegoro sendiri ya, arahnya mau kemana. Bukan di SKK Migasnya," kata Kepala Bagian Humas SKK Migas, Jabanusa, Doni Ariyanto dikonfirmasi terpisah.

Ditanya apakah sudah ada surat masuk dari Pemkab Bojonegoro terkait usulan pengelolaan gas flare Blok Cepu, Doni mengaku akan mencari tahu terlebih dahulu.

"Kalau itu, saya konfirmasi dahulu. Nanti kami beritahu lagi," ucapnya.

Untuk diketahui, wacana pengelolaan gas flare Blok Cepu ini pernah muncul di era pemerintahan Bupati Suyoto pada tahun 2011 silam. Bahkan, Pemkab Bojonegoro kala itu telah mengajukan usulan ke Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas/BP Migas (sekarang SKK Migas) untuk mengelola gas flare yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Kala itu, pengelolaan gas flare Blok Cepu rencananya dilakukan BUMD PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS). Dengan pertimbangan lingkungan dan berpotensi untuk dikelola secara bisnis to bisnis (Be to Be).

Data yang dimiliki suarabanyuurip, besaran gas suar bakar (flare) Banyu Urip berkisar antara 23 juta kaki kubik per hari (Meter Standar Cubic Feed Day/MMSCFD) sampai 70 MMSCFD. Jumlah tersebut saat Banyu Urip berproduksi 165 ribu barel per hari (bph).

Dimungkinkan gas yang dibakar bertambah dengan meningkatnya jumlah produksi sekarang ini sebesar 217,7 ribu bph, dan akan dinaikkan lagi menjadi 235 ribu bph.(rien)

Kredit

Bagikan