H+7 Lebaran, Aktivitas Proyek Gas JTB Kembali Normal

user
nugroho 07 Juni 2019, 11:08 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Aktivitas Proyek Engineeering, Procurement and Constructions - Gas Processing Facility (EPC-GPF) Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan kembali normal pada H+7 lebaran atau tanggal 13 Juni 2019 mendatang.

Baca Juga :

Pengembangan Proyek Gas J-TB Mulai Disosialisasikan

Empat Kunci Agar Proyek Gas Jambaran – Tiung Biru Sukses

Pengangkutan material proyek dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No PM 37 tahun 2019 tentang Pengaturan Lalu Lintas Pada Masa Angkutan Lebaran Tahun 2019.

"Pekan depan sudah aktivitas lagi, kita berjalan sesuai arahan Kemenhub," kata Site Manager PT Rekayasa  Industri (Rekind), pelaksana proyek EPC-GPF JTB, Zainal Arifin, kepada suarabanyuurip.com, Jumat (7/6/2019).

Dijelaskan, kegiatan yang dihentikan sementara hingga pekan depan tersebut, adalah mobil barang yang digunakan untuk mengangkut tanah pedel yang diambil dari Rengel, Kabupaten Tuban dan sebagian dari Bojonegoro.

"Tanah pedel ada yang ambil dari Rengel dan Bojonegoro," imbuhnya.

Baca Juga :

Berharap Rekind Tidak Seperti PP

Inilah Persyaratan Agar Bisa Bekerja di Proyek JTB

Dikonfirmasi terpisah, JTB Site Office & PGA Manager PEPC, Kunadi, mengatakan, pekerjaan di JTB sampai saat ini telah mencapai 21 persen.

"Sekarang sudah mencapai 21 persen," tukasnya.

Proyek EPC-GPF telah berlangsung 1,5 tahun pascaditandatanganinya kontrak kerja antara Pertamina EP Cepu dengan Konsorsium PT Rekayasa Industri (Rekind)- PT Japan Gas Corporation (JGC) Indonesia - JGC Corporation di Jakarta, Senin (4/12/2017) silam.

Proyek EPC-GPF JTB menelan biaya USD 1.547 miliar. Proyek ditargetkan selesai pada kuartal dua tahun 2021.

Baca Juga :

Tidak Ada DP, PT Rekind Bakal Seleksi Kontraktor Lokal

Rekind Diminta Segera Sosialisasikan Mekanisme Pembayaran

Proyek Jambaran-Tiung Biru merupakan proyek strategis nasional dengan kapasitas produksi mencapai 330 MMSCFD dari enam sumur yang akan diolah melalui GPF.

Dalam rencana awal, dari rata-rata produksi sebesar 315 MMSCFD–330 MMSCFD, GPF memisahkan kandungan CO2 dan H2S, sehingga menghasilkan gas yang dapat dijual sebesar 172 MMSCFD.

Tapi kini gas yang bisa dijual adalah sebesar 192 MMSCFD. Untuk 100 MMSCFD sudah dipastikan akan diserap PT PLN (Persero) untuk kebutuhan pembangkit tenaga listrik gas.(rien)

Kredit

Bagikan