Sistem JO Kilang Mini Berpotensi Rugikan BUMD

user
samian 27 September 2017, 13:39 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bojonegoro Institute (BI) mendukung Menteri ESDM, Ignasius Jonan, yang menolak memberikan pasokan minyak mentah ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS). Dengan alasan bentuk kerjasama Joint Operation (JO).

"Saya setuju dengan Menteri ESDM,  dengan alasan bahwa bentuk kerjasama JO berpotensi merugikan BUMD PT BBS," kata Direktur BI, AW. Syaiful Huda kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (27/9/2017).

Karena kelemahan kerjasama JO ini manajemennya terpisah. Jika dalam prakteknya nanti, mitra PT BBS yakni PT Tierra yang jadi operator, maka BUMD akan sulit mengendalikan.

Berbeda dengan sistem kerjasama Joint Venture (JV). Dimana kedua akan ada badan usaha baru, dengan ketentuan kekuasaan dan hak suara didasarkan pada kepemilikan saham terbanyak.

"Dan berdasarkan regulasi yang ada, dalam kerjasama dengan pihak-pihak swasta, saham BUMD harus saham mayoritas," lanjutnya.

Dalam menggandeng kerjasama dengan perusahaan swasta,  seharusnya BUMD melihat trackrecord (rekam jejak)  perusahaan yang akan dijadikan mitra.

Untuk pengelolaan minyak mentah ini seharusnya perusahaan yang digandeng adalah perusahaan yang telah teruji bergerak di usaha kilang.

"Pandangan saya, PT Tierra ini perusahaan belum begitu jelas trackrecord-nya di bidang perkilangan," tegas AW.

Langkah BBS menggandeng PT Tierra sebenarnya mengundang banyak pertanyaan. Selain soal keraguan akan kemampuan perusahaan itu, pertanyaan lainnya. Selama itu BBS tidak mencoba menjajaki kemungkinan bekerjasama dengan perusahaan yang memang sangat expert baik dalam negeri bahkan luar negeri dalam membangun kilang minyak.

"Perusahaan dalam negeri misal, PT Tri Wahana Universal (TWU) yang saat ini memiliki kilang mini di Desa Sumengko, dan Pertamina. Sedangkan perusahaan luar negeri Rosneft perusahaan dari rusia yang sekarang di percaya negara membangun kilang di pantai Tuban," imbuhnya.

Perusahaan tersebut sudah sangat berpengalaman dan rekam jejaknya bisa di pertanggungjwabkan.

Dengan menggandeng perusahaan baru, dan rekam jejak dan pengalamannya belum ada, berarti harus menyiapkan segala sesuatunya dari nol.

Diantaranya lokasi kilang,  pembangunan fasilitas, engennering dan lain sebagainya. Sudahkah BUMD PT BBS mengkalkulasi secara baik managemen, teknis dan financial terkait dengan perusahaan yang sekarang jadi mitra yaitu PT.Tiera Energi.

"Selain itu juga BBS punya rekam jejak yang buruk dalam menggandeng mitra, yaitu kasus IME yang merugikan daerah, dan menyisakan masalah sampai sekarang," tegasnya.

Yaitu pengelolaan gas suar bakar dari lapangan Sukowati yang operatornya Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ).

"Belajar dari pengalaman tersebut,  jangan-jangan PT Tierra akan lari ditengah jalan, seperti halnya PT IME," pungkasnya.(rien)

Kredit

Bagikan