Pembangunan Pabrik Pengolahan Gas Dimulai

user
nugroho 01 Juni 2012, 15:12 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com -Ririn W

Pembangunan pabrik pengolahan gas oleh PT. Bangkit Bangun Sarana (BBS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro segera dimulai menyusul ditandatanganinya perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) yang meliputi Pertamina Hulu Energi (PHE), Petrochina Internasional, Pertamina EP Tuban dan Pertamina EP Tuban East Java, Kamis (31/05/2012) kemarin.

“Kami sangat berterimakasih kepada JOB PPEJ yang membantu mendatangi satu persatu K3S,” kata Direktur Utama PT. BBS, Deddy Afidick.

Gas yang akan diolah BBS ini merupakan gas flare (ikutan) dari Lapangan Sukowati yang dikelola Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ). Gas suar bakar itu akan diolah diantaranya menjadi elpiji, LNG, condensat. Pengolahan gas ini merupakan salah satu program pemerintah untuk mengkonversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Sekaligus mengurangi emisi dengan pemanfaatan gas flare dengan tidak dibakar melainkan dimanfaatkan atau diinjeksi.

“Disini kita manfaatkan untuk produk yang memiliki nilai jual,” jelas mantan karyawan MCL ini.

Seperti diberikan sebelumnya, BBS memperoleh jatah gas dari JOBP-PEJ sebesar 10 Meter Standar Cubic Feed Day (MMSCFD) dari  24 juta MMSCFD gas yang dihasilkan dari Lapangan Sukowati, Blok Tuban. Dengan harga Rp. 120 juta.

BBS menargetkan pembangunan konstruksi pabrik pengolahan gas ini membutuhkan waktu delapan bulan sejak PJBG ditandatangani. Diperkirakan pembangunan pabrik pengolahan gas ini membutuhkan biaya sekitar USD 35 juta – USD 40 juta yang ditanggung investor yakni Konsorsium PT. PT. Inter Media Energy – PT. Niaga Gema Teknologi, yang bergerak dibidang finansial maupun teknis.

Sedangkan sistim kerjasama yang digunakan antara BBS dengan investor dalam pengolahan gas ini adalah memakai dua mekanisme. Yakni  kerjasama jual beli gas dan pengolahan. Dengan pembagian keuntungan untuk lima tahun kedepan 70 persen investor dan 30 persen BUMD. Bagi hasil ini akan meningkat setelah lima tahun dengan porsi 60 persen investor dan 40 persen BUMD.(suko)

Kredit

Bagikan