Bertumpu pada Produksi Blok Cepu

user
nugroho 06 Desember 2011, 23:33 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - D Suko Nugroho

Produksi Minyak Banyuurip, Blok Cepu, menjadi tumpuan pemerintah untuk memenuhi target minyak dalam negeri sebesar 1 juta barel per hari (bph). Ditargetkan sumur minyak di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, ini mampu berproduksi puncak sebesar 165 ribu bph pada 2014 mendatang.

”Sekarang ini produksi minyak kita baru sebesar 905 ribu bph. Target itu dapat dipenuhi kalau Banyuurip sudah berproduksi puncak,” kata Kapala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP. Migas), R. Priyono disaat jumpa pers usai melakukan peletakan batu pertama proyek engineering, procurement, and cosntruction (EPC) 1 Banyuurip, Selasa (6/12).

Dia menjelaskan, dari 12 kontrak yang ditandatangani BP. Migas dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hingga 2016, hanya ada dua kontrak yang memiliki kandungan minyak. Sedangkan lainnya adalah sumur gas.

”Untuk itu semua pihak harus mendukung proyek Banyuurip ini agar produksi puncak dapat berjalan sesuai jadual dan target (minyak dalam negeri) dapat terpenuhi,” harap R.Priyono.

Priyono mengakui, bahwa banyak persoalaan yang mengiringi persiapan pengembangan penuh Lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu ini. Mulai dari pembebasan lahan, penggunaan kandungan lokal hingga perijinan.

Namun semua kendala itu, lanjut dia, dapat teratasi dengan mulai diumumkannya pemenang EPC 1 pada Agustus lalu. Kemudian disusul pemenang EPC 2 sampai EPC 5 yang ditandatang hari ini.

”Untuk pekerjaan proyek EPC Banyuurip ini kita tetap mengutamakan pengusaha nasional sebagai leader. Meski begitu kita tetap terbuka bagi perusahaan asing,” ujarnya menerangkan.

Salah satu tujuan mengutamakan pengusaha nasional ini, kata Priyono, adalah untuk meningkatkan peran perbankan dalam kegiatan industri migas yang masih sangat minim.

”Dengan begitu konten lokal akan dapat terlibat secara maksimal,” sergahnya.

Pada bagian lain, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik menegaskan, akan mengawal proyek Banyuurip ini agar berjalan sesuai targat. Karena itu dia telah meminta kepada BP. Migas untuk melaporkan pengerjaan proyek ini setiap tiga bulan sekali.

”Jika produksi puncak bisa dilaksanakan 2013, akan jauh lebih baik. Walaupun sesuai kontraknya produksi puncak baru dapat berlangsung 36 sejak kontrak ditandatangi yakni pada Juli 2014 mendatang,” sambung Jero Wacik.

Dia mengaku optimis produksi puncak Banyuurip dapat terlaksana pada 2013 bila semua pemangku kepentingan mulai tingkat daerah hingga pusat mendukung proyek ini. Salah satunya perijinan ditingkat daerah dipermudah.

”Kalau pemda, pemrop, dan DPRnya sudah satu hati begini tak ada yang mustahil,” tegasnya.

Sebelumnya, President and general manager afiliasi ExxonMobil di Indonesia, Terry S. McPhail menyatakan, bahwa peletakan batu pertama ini merupakan tanda dimulainya pengerjaan pengembangan penuh Lapangan Banyuurip. MCL, kata dia, telah menganugrahkan lima kontrak EPC kepada lima konsorsium.

”Kami bekerjasama dengan BP. Migas, PT. Pertamina EP Cepu, dan Badan Kerja sama (BKS) Blok Cepu untuk secepatnya membawa sumberdaya banyuurip ke tahap produksi penuh, sambil memastikan operasi yang aman dan terandalkan,” pungkasnya.

Peletakan batu pertama proyek EPC 1 Banyuurip dihadiri sejumlah pejabat tingkat pusat. Diantaranya anggota Komisi VII DPR RI Setya Yudha, Dirjen Migas Evita Legowo, Direktur Pertamina Karen Agustiawan. Gubernur Jatim Soekarwo, Bupati Bojonegoro Suyoto, Muspida, dan sejumlah pejabat dari Pemerintah Kabupaten Tuban dan Blora, Jateng.

Kredit

Bagikan