Migas Harus Jadi Lokomotif Penggerak Ekonomi

user
nugroho 05 Desember 2011, 12:54 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - D Suko Nugroho

Kapala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi wilayah Jawa, Papua dan Maluku (BP. Migas Japalu), Hadi Prasetyo, meminta kepada pemerintah daerah agar dapat lebih memafaatkan keberadaan sumber migas didaerahnya sebagai penggerak ekonomi.

”Kalau dulu gas untuk komoditas. Tapi sekarang harus menjadi lokomotif penggerak ekonomi didaerah. Karena produksi migas ini tidak berlangsung terus menerus,” kata Hadi Prasetyo ketika membuka Lokakarya Jurnalistik tentang Migas yang dilaksanakan tiga kontraktor kontrak kerja sama (KKS) di Hotel Novotel Surabaya.

Tiga KKS itu adalah Mobil Cepu Limited (MCL), Operator Migas Blok Cepu, Join Operating Body Pertamina – PetroChina East Java (JOBP-PEJ), Operator Migas Blok Tuban, dan Pertamina Wilayah Cepu.

Menurut Hadi, kurang menggeliatnya perekonomian didaerah yang memiliki tambang migas selama ini dikarenakan tidak adanya industri diwilayah setempat yang mengolah sumber daya alam tersebut. Akibatnya, gas terus didistribusikan ke luar daerah bahkan dieksport ke luar negeri.

”Karena itu daerah harus mendirikan industri yang mampu menyerap produksi gas agar tidak keluar,” tegas Hadi.

Dia menjelaskan, ada beberapa keuntungan bila didaerah terdapat industri yang dapat menyerap produksi gas. Yakni membuka lapangan pekerjaan dan menumbuhkan usaha-usaha ikutan lainnya. Dengan multy player effect tersebut dapat menggerakkan roda perekonomian daerah.

”Selain itu juga menguntungkan KKS. Karena mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk membuat faslitas pendistribusian gas yang costnya cukup besar,” papar Hadi.

Keinginan BP. Migas tersebut telah ditangkap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Beberapa waktu lalu, Pemkab melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) telah melakukan kesepakatan dengan PT. Pupuk Sriwijaya (Pusri), Palembang, untuk melakukan kerjasa pembangunan pabrik pupuk.

Rencananya, lokasi pembangunan pabrik pupuk itu berada dekat dengan Sumur Gas Jambaran di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem. Diperkirakan, pabrik pupuk itu setiap harinya akan membutuhkan gas sebanyak 12 sampai 15 MMCSFD. Untuk memasok gasnya akan dilakukan BUMD.

”Kita terus melakukan penjajakan. Bukan hanya dengan Pusri, tapi juga perusahaan-perusahaan lain yang membutuhkan gas untuk mendukung produksinya,” sambung Deddy Afidick, Direktur Utama PT. Bangkit Bangun Sarana (BBS), BUMD Bojonegoro.  


Kredit

Bagikan