Investor Luar Daerah Garap Sumur Minyak Tua Ledok, 1 Sumur Bisa Habiskan Rp1,8 Miliar

user
Nugroho 31 Agustus 2022, 11:30 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Investor dari Kalimantan dan Jakarta tertarik menggarap usaha penambangan minyak sumur tua di Lapangan Ledok, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Setiap satu sumur menghabiskan biaya hingga Rp1,8 miliar.

Lokasi sumur minyak tradisional itu berada di Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Pertamina EP Field Cepu. Tepatnya berada di kawasan hutan di bawah pengelolaan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Cepu.

Menurut Ketua Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Timba (PPMST) Ledok, Supraptono, ada dua investor yang sekarang ini, berinvestasi di Lapangan Sumur Tua Ledok. Mereka berasal dari Kalimantan dan Jakarta. Untuk investor Kalimantan menggarap titik sumur 14.

"Sekarang ini sudah selesai servis dan tengah melakukan uji coba produksi" katanya kepada suarabanyuurip.com, Selasa (30/8/2022).

Pada masa uji coba, lanjut dia, sumur tua tersebut bisa memproduksi minyak lebih dari 2 meter kubik per hari.

"Jumlah itu belum optimal. Kalau sudah dioptimalkan bisa mencapai 12 meter kubik per hari," ungkapnya.

Sementara, lanjut Supraptono, investor dari Jakarta mengerjakan titik sumur 121. Sekarang ini sedang mempersiapkan alat untuk melakukan servis.

"Memasang menara atau rig mini," kata dia melalui sambungan teleponnya.

Supraptono menjelaskan, dalam pengusahaan sumur minyak tradisional itu bisa menghabiskan dana miliaran rupiah. Kegiatan dilakukan menggunakan alat modern dengan lama waktu pengerjaan sekira satu sampai 2 minggu.

"Jika dihitung dengan moving alat yang digunakan, bisa mencapai 3 minggu," ucapnya.

Kondisi tersebut akan berbeda jika dikerjakan dengan tenaga manusia. Lama pekerjaan bisa menghabiskan waktu hingga satu tahun. Untuk kedalaman sumur rata-rata 360 meter dibawah permukaan tanah.

"Karena ya kadang berhenti kadang jalan lagi. Tidak menentu," jelasnya.

Terkait nilai investasi untuk setiap satu titik sumur, dana yang dikeluarkan cukup fantastis. Baik dengan tenaga manusia maupun mesin modern. Mengingat harga peralatan yang digunakan juga mengalami kenaikan.

Nilai yang dipatok untuk sumur yang akan dikerjakan atau selesai dikerjakan, dia tidak mengetahui persis. Menurut pria bersuara lantang ini, tergantung kesepakatan penambang dengan investor.

"Kita tidak ikut cawe-cawe dalam menentukan nilai," tegasnya.

Pihaknya sebagai ketua perkumpulan hanya sekadar mengetahui perjanjian di hadapan notaris.

"Dari pengalaman saya, satu titik sumur bisa menghabiskan dana Rp 1,8 miliar. Karena memang untuk sewa mesin dan pembelian alat yang harganya juga mahal," ujar dia.

Pun demikian dengan kesepakatan hasil yang diperoleh dari penambangan minyak sumur tua. Kesepakatan antaran penambang dengan investor. Kalau dari paguyuban sebagai pihak yang menaungi dan memiliki legalitas, hanya mendapat bagi hasil.

"70 persen untuk penambang 30 persen sisanya untuk perkumpulan," pungkasnya.(ams)

Credits

Bagikan