Buka Pameran IPA, Menteri ESDM : Migas Berperan Penting dalam Transisi Energi

user
Nugroho 22 September 2022, 10:27 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Menteri ESDM Arifin Tasrif menegaskan pemerintah Indonesia berkomitmen mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat, serta menggarisbawahi pentingnya mengatasi tantangan perubahan iklim dan transisi energi menuju NZE tersebut. Namun demikian, migas masih berperan penting dalam transisi energi karena bahan bakar fosil masih berperan besar dalam pemenuhan energi nasional.

"Untuk itu diperlukan proses transisi yang terukur dan harus mengelola sistem energi untuk disesuaikan," kata Arifin Tasrif saat membuka Pameran dan Konvensi Indonesian Petroleum Association (IPA) Tahun 2022 di Jakarta Convention Center, Rabu (21/9/2022).

Pameran dan Konvensi IPA ke-46 ini mengambil tema “Addressing the Dual Challenge: Meeting Indonesia’s Energy Needs While Mitigating Risks of Climate Change”.

Dalam konteks energi rendah karbon, menurut Arifin, peran gas sangat penting sebagai energi transisi sebelum dominasi bahan bakar fosil bergeser ke energi terbarukan dalam jangka panjang. Transisi energi ini akan dilakukan dalam beberapa tahap dengan mempertimbangkan daya saing, biaya, ketersediaan dan keberlanjutan.

Untuk mencapai keseimbangan antara peningkatan produksi migas dan target emisi karbon, lanjut Arifin, pemerintah mempromosikan inovasi teknologi rendah emisi. Sebagai contoh, penggunaan teknologi Carbon Capture and Utilization Storage (CCUS). Saat ini terdapat 14 proyek CCS/CCUS di Indonesia yang masih dalam tahap studi/persiapan, sebagian besar ditargetkan onstream sebelum 2030.

Salah satu proyek menjanjikan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah Tangguh Enhanced Gas Recovery (EGR) dan CCUS. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon sekitar 25 juta ton CO2 hingga 2035, serta meningkatkan produksi hingga 300 BSCF hingga tahun 2035.

“Tangguh EGR/CCUS bisa menjadi role model pengembangan gas masa depan di Indonesia,” tegas Arifin dalam keterangan tertulisnya dikutip dari laman Ditjen Migas.

Pada saat ini, Pemerintah sedang menyiapkan Peraturan Menteri tentang CCS/CCUS. Pada langkah pertama, fokus utama adalah Enhanced Oil Recovery, Enhanced Gas Recovery atau Enhanced Coal Bed Methane di wilayah kerja migas.

“Kami masih memfinalisasi draf dan peraturan ini menjadi salah satu prioritas,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Arifin juga menyampaikan bahwa Pemerintah telah menetapkan peta jalan untuk pengembangan migas non konvensional pada tahun 2030 melalui beberapa langkah. Antara lain perbaikan tata kelola dan melakukan inventarisasi potensi, komersialisasi dan eksploitasi, optimalisasi produksi dan pengembangan produksi.

“Kami mendorong percepatan migas non konvensional di mana Indonesia memiliki sumber daya shale oil dan shale gas. Pemerintah memperbaiki regulasi dan fiskal migas non konvensional yaitu Kontraktor migas konvensional juga dapat mengeksploitasi sumber daya migas non konvensional di wilayah kerjanya dengan menggunakan kontrak yang sama tanpa proses tender,” jelas Arifin.

Pihaknya optimis melalui kolaborasi internasional, industri migas dapat mengatasi semua tantangan dengan menerapkan semua teknologi yang dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca menuju NZE. Dia juga mengundang stakeholder untuk mengeksplorasi, memproduksi dan mengembangkan sektor migas Indonesia, serta memunculkan inovasi-inovas baru dan solusi yang akan membawa kesejahteraan bagi semua pihak.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA), Irtiza H. Sayyed, menyampaikan bahwa tantangan energi Indonesia membutuhkan solusi multi-dimensi. Percepatan transisi energi Indonesia membutuhkan upaya bersama. Dalam 10-20 tahun ke depan, industri hulu migas perlu mengembangkan dan menggali potensi migas Indonesia mengingat tingginya kebutuhan energi yang ada.

“Upaya ini akan memenuhi dua kebutuhan sekaligus yaitu meningkatkan penerimaan negara dan memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan Indonesia,” ujarnya.

Selain mendorong peningkatan produksi migas, lanjut Irtiza, industri migas saat ini juga tengah fokus untuk menurunkan emisi karbon. Dalam kegiatan operasional dan produksinya, perusahaan migas terus mengembangkan berbagai teknologi yang dapat mengurangi emisi karbon dan menghasilkan energi yang lebih bersih. Salah satu teknologi yang paling menjanjikan untuk mencapai emisi yang lebih rendah adalah Carbon Capture and Storage (CCS). Penerapan teknologi rendah karbon ini bertujuan untuk mencapai NZE, namun dukungan kebijakan diperlukan untuk mendorong investasi.

“Dalam kasus teknologi seperti CCS, investasi yang dibutuhkan sangat besar, dan penerapan pada skala industri merupakan komitmen jangka panjang. Untuk meyakinkan bisnis jangka panjang terhadap investasi semacam itu, stakeholder berharap bahwa kebijakan Pemerintah akan mendukung teknologi yang mereka bantu besarkan. Transisi ke energi berkelanjutan memerlukan kerjasama yang erat antar pemangku kepentingan, baik dari pelaku industri dan juga Pemerintah,” katanya.

IPA Convex 2022 berlangsung secara hybrid selama tiga hari mulai 21-23 September 2022. Hadir dalam acara ini, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji dan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto.(suko)

Credits

Bagikan