Potensi Migas Indonesia Cukup Besar, 70 Cekungan Ditawarkan ke Investor

user
Nugroho 22 September 2022, 11:30 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Indonesia memiliki potensi minyak dan gas bumi (Migas) cukup besar. Terdapat 70 cekungan yang belum dijelajahi dan akan ditawarkan kepada investor. Agar lebih menarik, pemerintah juga melakukan perbaikan kebijakan.

“Pemerintah saat ini akan mempercepat eksplorasi di 5 wilayah kerja di Timur Indonesia yaitu Buton, Timor, Seram, Aru-Arafura dan West Papua Onshore,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif ketika membuka Pameran dan Konvensi Indonesian Petroleum Association (IPA) Tahun 2022 di Jakarta Convention Center, Rabu (21/9/2022).

Arifin menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki 4 proyek migas yang menjanjikan yaitu IDD Gendalo dan Gehem, Jambaran Tiung Biru, Lapangan Abadi dan Tangguh Train-3. Keempat proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi migas dengan 65.000 BOPD dan 3.484 MMSCFD dengan total investasi lebih dari US$37 miliar.

Untuk meningkatkan produksi migas, pemerintah akan mengumumkan Penawaran Wilayah Kerja (WK) Migas Tahap II Tahun 2022, terdiri dari 5 WK untuk penawaran langsung, 1 WK penawaran langsung Blok Paus, 1 WK untuk lelang reguler dan 1 WK penawaran langsung untuk West Kampar.

Selanjutnya, untuk mendorong investasi hulu di Indonesia, pemerintah telah melakukan beberapa terobosan kebijakan, antara lain melalui fleksibilitas kontrak (Cost Recovery PSC atau Gross Split PSC), perbaikan syarat dan ketentuan pada tahap lelang, insentif fiskal/non-fiskal, perizinan online, serta penyesuaian regulasi untuk migas non konvensional.

"Pemerintah juga akan merevisi Undang-undang No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi seperti perbaikan fiskal, memberikan kemudahan berusaha dan kepastian kontrak," ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arifin juga menyampaikan bahwa Indonesia pernah mengalami booming minyak sebanyak dua kali. Pertama, pada tahun 1974, ketika OPEC secara drastis memotong ekspor resminya yang menyebabkan harga minyak melonjak. Kedua, pada 1979, ketika Iran sedang mengalami revolusi nasional dan mengganggu pasokan minyak dunia pasokan sehingga harga minyak dunia melonjak tinggi.

“Booming minyak dua kali tersebut membuat pendapatan minyak Indonesia sangat tinggi dan berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Selain itu, Indonesia juga pernah mengalami dua periode puncak produksi minyak pada tahun 1977 dan 1995. Pada tahun 1995, produksi minyak lebih dari 1,6 juta barel per hari, terutama berasal dari Rokan, Jatibarang, Mahakam dan Arjuna ONWJ. Sementara itu, produksi gas mencapai puncaknya pada tahun 2004 sebesar 1.533 MBOEPD berasal dari Lapangan Vortawa. Puncak produksi minyak dan gas terjadi pada tahun 1998 sebesar 2.960 MBOEPD.

Setelah tahun 1995, produksi minyak terus menurun karena tidak adanya penemuan cadangan minyak yang besar. Hal ini disebabkan kurangnya eksplorasi dan investasi, terbatasnya pembiayaan, pandemi Covid-19 dan beralihnya investasi ke energi terbarukan.

“Namun, kami akan mendongkrak produksi migas untuk mencapai target sebesar 1 juta BOPD dan 12 BSCFD dengan beberapa strategi seperti optimalisasi lapangan produksi eksisting, transformasi sumber daya untuk produksi, akselerasi chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) dan eksplorasi yang masif untuk penemuan besar, serta pengembangan minyak dan gas bumi non konvensional," pungkasArifin.(suko)

Credits

Bagikan