Teknologi CCUS Berperan Penting Dukung Transisi Energi

user
Nugroho 01 November 2022, 11:37 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - d sujko nugroho

Jakarta - Direktur Jendran Minyak dan Gas Bumi Migas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji menyampaikan aplikasi CCUS akan dimulai pasca tahun 2025 dengan jumlah CO2 captured diperkirakan 6 juta ton CO2 per tahun pada 2030, dan terus meningkat hingga mencapai sekitar 190 juta ton CO2 pertahun pada 2060.

“Target itu sesuai dalam roadmap net zero emission atau NZE," tegas Tutuka dalam keterangan tertulisnya.

Tutuka menegaskan, berdasarkan Special Report IEA (International Energy Agency) terkait Roadmap Net Zero Emission (NZE) Indonesia di sektor energi, Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) akan memainkan peran penting dalam mendukung transisi energi Indonesia.

"Khususnya bidang industri, pembangkit listrik dan transformasi bahan bakar," ucap pria yang pernah menjabat Kepala PPSDM Migas ini.

Pada kegiatan usaha migas baik hulu maupun hilir migas, lanjut Tutuka, proyeksi puncak emisi gas rumah kaca (GRK) sekitar 44 juta ton CO2e pada tahun 2030. Hal ini karena peningkatan produksi untuk mencapai target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD. Sementara total emisi sampai 2060 diperkirakan sebesar 1149 juta ton CO2e di mana 659 juta ton CO2e dari hulu dan 490 juta ton CO2e dari hilir.

“Berdasarkan studi yang telah dilakukan Lemigas dan studi lainnya, Indonesia memiliki potensi storage sekitar 2 Giga Ton CO2 pada depleted reservoir migas yang tersebar pada beberapa area dan sekitar 10 Giga Ton CO2 pada saline aquifer di West Java dan South Sumatera Basin,” jelasnya.

Sementara berdasarkan hasil kajian lain yang dilakukan oleh ExxonMobil memperkirakan potensi storage jauh lebih besar yaitu sekitar 80 Giga Ton CO2 pada saline aquifer. Sementara dari hasil kajian Rystad Energy memperkirakan lebih dari 400 Giga Ton CO2 pada reservoir migas dan saline aquifer Indonesia.

"Saat ini kita sedang menyiapkan tim untuk memetakan potensi potensi kapasitas CO2 storage di Indonesia yang nantinya akan melibatkan berbagai pihak termasuk SKK Migas dan Pertamina," tegas Tutuka.

Menurut dia, saat ini terdapat sekitar 15 proyek CCS/CCUS yang semuanya masih dalam tahap studi dan persiapan di mana sebagian ditargetkan untuk mulai beroperasi sebelum 2030. Proyek-proyek ini dilaksanakan oleh berbagai perusahaan hulu migas di mana sebagian besar dilaksanakan oleh Pertamina dan melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak baik nasional maupun internasional.

Diantara proyek-proyek tersebut, Tangguh dan Gundih CCUS perkembangannya cukup signifikan. Tangguh EGR CCUS telah mendapatkan persetujuan POD, sementara Gundih CCUS berpotensi mendapat dukungan pendanaan dari Jepang melalui skema Joint Crediting Mechanism. Selain itu, Pilot Test Huff and Puff CO2 Injection di Lapangan Jatibarang, Indramayu.

Untuk mendukung pengembangan teknologi CCS/CCUS, sejak tahun 2021 Ditjen Migas bersama tim yang melibatkan berbagai stakeholder, telah menyusun draft Peraturan Menteri ESDM terkait Penyelenggaraan CCS/CCUS. Draft regulasi difokuskan pada CCS atau CCUS melalui CO2 EOR/EGR/ECBM pada Wilayah Kerja Migas dan saat ini dalam proses harmonisasi antarkementerian. Regulasi ini diharapkan dapat ditetapkan dalam waktu dekat.

Kepala LEMIGAS Ditjen Migas Kementerian ESDM Ariana Soemanto sebelumnya menjelaskan, tim teknis gabungan CCS/CCUS tersebut akan menghasilkan pemutakhiran perhitungan kapasitas storage CO2 pada berbagai formasi geologi, cekungan sedimen, baik pada depleted oil and gas reservoir, maupun saline formation atau reservoir air bersalinitas tinggi.
 
"Metode perhitungan potensi storage melibatkan para tim ahli profesional, LEMIGAS, maupun akademisi dan badan usaha. Tim teknis gabungan CCS/CCUS juga akan menghasilkan studi teknologi dan aspek biaya," tegasnya.(suko)

Kredit

Bagikan