KKKS Migas Wajib Siapkan Sistem Tanggap Darurat dalam Penerapan Teknologi CCUS

user
Nugroho 04 November 2022, 11:30 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - d suko nugroho

Bandung - Kementerian ESDM sedang merampungkan regulasi Teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) dalam menghadapi transisi energi demi mencapai target Net Zero Emission (NZE) global. Dalam regulasi tersebut kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Migas wajib menyediakan sistem tanggap darurat.

"Tanggap darurat ini meliputi penilaian risiko, prosedur tanggap darurat, peralatan tanggap darurat termasuk peralatan peringatan dini, personel terdidik dan terlatih dan pelatihan berkala," kata Juniarto M. Palilu dari Ditjen Migas Kementerian ESDM.

Ia menjelaskan, dalam draft regulasi CCS-CCUS diatur mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga penutupan injeksi.

"Sekarang ini regulasi itu sedang disusun dengan melibatkan pelbagai pihak dan diharapkan rampung dalam waktu dekat ini," tegasnya.

Juniarto menyampaikan pentingnya untuk memastikan bahwa dalam kegiatan CCS/CCUS tidak ada kebocoran sehingga CO2 yang diinjeksikan dapat tersimpan secara aman dan permanen.

Karena itu, dia melanjutkan terkait penutupan injeksi, harus dilakukan monitoring untuk menjamin keselamatan pekerja, instalasi dan peralatan, lingkungan, dan/atau keselamatan umum. Monitoring dilakukan sejak rencana penyelenggaraan CCS/CCUS disetujui sampai 10 tahun setelah penyelesaian penutupan injeksi.

Menurut dia, rencana monitoring harus dilakukan berdasarkan kaidah keteknikan yang baik, sesuai karakteristik lokasi, menggunakan metode langsung maupun tidak langsung untuk mengidentifikasi potensi risiko seperti kebocoran, kontaminasi air tanah, integritas lapisan zona penyangga, zona kedap dan perangkap geologi, serta potensi risiko lainnya.

"Kalau itu dilaksanakan dengan baik, implementasi CCS/CCUS di Indonesia diyakini akan dapat mendukung peningkatan produksi migas sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca atau GRK," tandasnya saat diskusi CCS-CCUS sebagai bagian dari Forum Komunikasi Keselamatan Migas Tahun 2022.

Pentingnya monitoring ini juga dikemukakan Muhammad Rahmat dari ITB. Menurut dia, program monitoring harus dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu dan perlu pengawasan terhadap risiko yang dapat terjadi.

“Bisa saja setelah penutupan injeksi terjadi kebocoran. Jadi harus diidentifikasi untuk menghindari hal tersebut,” katanya.

Potensi kebocoran, menurut Rahmat, ada dua macam. Pertama, kebocoran akibat menginjeksikan CO2 di mana bagian bawah tekanannya sudah tinggi. Kedua, kebocoran dari lubang bor sumur produksi.

"Untuk itu harus dilakukan studi bagaimana supaya batuan penutup kuat untuk menahan batuan tambahan," tegasnya.

Di tempat yang sama, Deni Murdiadi dari DNV mengungkapkan, CCS-CCUS sudah dilakukan di berbagai negara maju seperti Norwegia. Hal ini lantaran negara tersebut memberlakukan carbon tax yang cukup mahal sehingga pelaku bisnis memilih menggunakan teknologi ini untuk menekan emisinya.

"Sementara untuk Indonesia yang tidak memberlakukan carbon tax yang tinggi, harus mencari solusi agar pelaku bisnis mau melakukan CCS-CCUS," ujarnya.

Pipi Pujiani dari BP Berau menyampaikan bahwa pengembangan dan pelaksanaan EGR/CCUS Tangguh terintegrasi dalam Project UCC (Ubadari, EGR/CCUS dan Onshore Compression) dengan total investasi US$3 miliar. Tangguh EGR/CCUS akan mengurangi emisi hingga 33 mtCO2 hingga 2045 dengan menginjeksi CO2 ke reservoir di Lapangan Vorwata sebanyak 4 mtCO2 per tahun.

Sain itu, Tangguh EGR/CCUS juga akan memberikan produksi tambahan sekitar 300 BSCF hingga 2035 atau 500 BSCF hingga 2045.

“Ini akan menjadi CCUS skala besar pertama di Indonesia yang menyelaraskan dan mendukung target produksi gas pemerintah Indonesia serta target penurunan emisi di 2030,” papar Pipi.

Dia menambahkan, Tangguh EGR/CCUS sebagai proyek UCC terintegrasi, akan memberikan kesempatan kerja yang luas sekitar 4000-6000 orang selama masa konstruksi dan pembangunannya melibatkan perusahaan nasional.

"Proyek ini diharapkan onstream tahun 2026-2027," pungkas Pepi.

Untuk diketahui, berdasarkan Roadmap IEA untuk NZE tahun 2050 di sektor energi, teknologi CCUS akan berkontribusi lebih dari 10% dari kumulatif pengurangan emisi global pada tahun 2050. Sedangkan untuk Asia Tenggara, untuk menjaga agar tujuan Paris Agreement dapat tercapai, kebutuhan CCS/CCUS di Asia Tenggara mencapai 35 juta tCO2 pada tahun 2030 dan lebih dari 200 juta tCO2 pada tahun 2050.

Indonesia memiliki banyak lapangan migas dengan kandungan CO2 tinggi. Saat ini terdapat 15 kegiatan CCS/CCUS di Indonesia yang masih dalam tahap studi/persiapan, namun sebagian besar ditargetkan onstream sebelum 2030.(suko)

Kredit

Bagikan