Pertamina - ExxonMobil Teken Kerja Sama Penurunan Emisi Karbon

user
Nugroho 14 November 2022, 22:44 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - d suko nugroho

Jakarta - Pertamina bersama ExxonMobil Indonesia telah menandatangani perjanjian kerja sama (Head of Agreement/HoA) pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) untuk penurunan emisi karbon sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Penandatangan HoA ini merupakan tindak lanjut Joint Study Agreement (JSA) yang ditandatangani di Amerika Serikat pada 13 Mei 2022 lalu.

Penandatangan HoA dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan President Asia Pacific Exxon Mobile Low Carbon Solution and President ExxonMobil Indonesia Irtiza Sayyed, di Nusa Dua, Bali, Minggu (13/11/2022). Pendatangan disaksikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan didampingi didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif.

Hadir pula dalam acara ini Duta Besar A.S. untuk Republik Indonesia Sung Y. Kim, serta Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji.

Luhut B Pandjaitan menyampaikan, kesepakatan bersama ini merupakan landasan yang kokoh bagi Indonesia untuk mencapai target nol bersih Indonesia pada tahun 2060 atau lebih cepat.

"Pemerintah Indonesia sedang berupaya mengembangkan regulasi yang mendukung CCS dan memulai pembahasan dengan pemerintah di wilayah lain," kata Luhut dikutip dari laman Ditjen Migas.

Studi bersama Pertamina dan ExxonMobil berhasil menemukan potensi karbon dioksida (CO2) dengan kapasitas hingga 1 miliar ton yang ditemukan di lapangan migas Pertamina. Kapasitas CO2 besar ini bisa untuk menyimpan secara permanen CO2 emisi seluruh Indonesia pada rata-rata saat ini, hingga 16 tahun ke depan.

Kerja sama Pertamina dengan Exxon dilakukan melalui studi bersama untuk melihat potensi penyimpanan CO2 di formasi saline di wilayah kerja Pertamina. Selain itu, Pertamina juga sedang melakukan studi bagaimana upaya dan inisiatif dekarbonisasi salah satunya melalui CCS yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional.

Penandatangan HoA ini merupakan tindak lanjut Joint Study Agreement (JSA) yang ditandatangani di Amerika Serikat pada 13 Mei 2022. Melalui penguatan kerja sama ini, Pertamina dan ExxonMobil akan mematangkan dan menyiapkan rancangan model komersial untuk pengembangan hub CCS regional di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Energi OSES dengan potensi untuk menyimpan CO2 domestik dan internasional.

Secara singkat, CCS/CCUS merupakan penangkapan CO2 pada gas buang dari berbagai sumber seperti migas atau lainnya dengan menggunakan teknologi yang ada, selanjutnya dimurnikan dan dikompresi untuk diangkut ke lokasi injeksi seperti lapangan migas atau aquifer, sebagai upaya untuk meningkatkan produksi migas. CO2 bisa juga dimanfaatkan untuk produksi material bangunan, chemcal, plastik dan mineralisasi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji pada Peresmian Injeksi Perdana CO2 ke Sumur JTB-161 di Lapangan Jatibarang, Indramayu, 31 Oktober 2022 menyampaikan, berdasarkan Special Report IEA (International Energy Agency) terkait Roadmap Net Zero Emission (NZE) Indonesia di sektor energi, Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) akan memainkan peran penting dalam mendukung transisi energi Indonesia, khususnya bidang industri, pembangkit listrik dan transformasi bahan bakar.

Pada kegiatan usaha migas baik hulu maupun hilir migas, lanjut Tutuka, proyeksi puncak emisi gas rumah kaca (GRK) sekitar 44 juta ton CO2e pada tahun 2030 karena peningkatan produksi untuk mencapai target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD. Sementara total emisi sampai 2060 diperkirakan sebesar 1149 juta ton CO2e di mana 659 juta ton CO2e dari hulu dan 490 juta ton CO2e dari hilir.

“Berdasarkan studi yang telah dilakukan Lemigas dan studi lainnya, Indonesia memiliki potensi storage sekitar 2 Giga Ton CO2 pada depleted reservoir migas yang tersebar pada beberapa area dan sekitar 10 Giga Ton CO2 pada saline aquifer di West Java dan South Sumatera Basin,” kata dia.

Hasil kajian lain yang dilakukan oleh ExxonMobil memperkirakan potensi storage jauh lebih besar yaitu sekitar 80 Giga Ton CO2 pada saline aquifer, sementara dari hasil kajian Rystad Energy memperkirakan lebih dari 400 Giga Ton CO2 pada reservoir migas dan saline aquifer Indonesia.

Untuk mengeksplor lebih lanjut, saat ini Ditjen Migas sedang menyiapkan tim untuk memetakan potensi potensi kapasitas CO2 storage di Indonesia yang melibatkan berbagai pihak termasuk SKK Migas dan Pertamina.

Saat ini terdapat sekitar 15 proyek CCS/CCUS yang semuanya masih dalam tahap studi dan persiapan di mana sebagian ditargetkan untuk mulai beroperasi sebelum 2030. Proyek-proyek ini dilaksanakan oleh berbagai perusahaan hulu migas di mana sebagian besar dilaksanakan oleh Pertamina dan melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak baik nasional maupun internasional.

Diantara proyek-proyek tersebut, Tangguh dan Gundih CCUS perkembangannya cukup signifikan, di mana Tangguh EGR CCUS telah mendapatkan persetujuan POD, sementara Gundih CCUS berpotensi mendapat dukungan pendanaan dari Jepang melalui skema Joint Crediting Mechanism. Selain itu, Pilot Test Huff and Puff CO2 Injection di Lapangan Jatibarang, Indramayu.(suko)

Kredit

Bagikan