5 Kontraktor PEPC Penuhi Tuntutan Warga Bandungrejo

user
Sasongko 24 November 2022, 18:32 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Sebanyak lima kontraktor atau vendor PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) akhirnya memenuhi tuntutan warga masyarakat Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang sampaikan di dialog yang digelar di balai desa setempat, Kamis (24/11/2022).

Kelima vendor itu adalah PT GBS, PT Daya Patra, PT GOS Catering, PT JSMU, dan PT Angsa Emas Perdana. Mereka mengabulkan permintaan keterlibatan warga Bandungrejo untuk direkrut sebagai tenaga kerja di proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) sesuai kebutuhan vendor masing-masing.

Keputusan itu muncul setelah berembug bersama ditengahi oleh Kepala Desa Bandungrejo, Sapani, dan Kasun Bandung, H. Wanuri.

"Untuk saat ini kita mendapatkan jatah 10 orang untuk tenaga housekeeping," kata Kades Sapani.

Sedangkan untuk tenaga fireman (pemadam kebakaran), masih menunggu perkembangan dua minggu kedepan. Karena internal perusahaan masih melakukan evaluasi tenaga kerja yang sudah ada.

"Jika ditunggu dua minggu belum ada keputusan, maka ceritanya nanti sudah beda. Yaitu perusahaan milih mengurangi atau menambah," tandasnya.

Sementara difokuskan bahwa, warga untuk menyiapkan empat orang sebagai tenaga driver, satu orang admin, satu orang HSSE, satu orang untuk supervisor, dan sejumlah tenaga kerja lainnya guna mengisi kebutuhan tenaga kerja pada bulan Desember 2022.

"Tapi jangan lupa, kalau kinerjanya kurang bagus akan diganti, dengan berkoordinasi lebih dulu dengan Kepala Desa," ujarnya.

Meskipun ada serapan tenaga kerja, para warga masih saling bersahutan menyerukan ketidakpuasan. Namun pihaknya menyadari tidak mungkin sebuah keputusan bisa memuaskan semua pihak.

"Yang terpenting kami berupaya semaksimal mungkin menjembatani keinginan para warga untuk mendapat lapangan pekerjaan itu dulu," tandasnya.

Kasun Bandung, H. Wanuri.
© 2022 suarabanyuurip.com/Arifin Jauhari

Di tempat yang sama, Kepala Dusun (Kasun) Bandung, H. Wanuri menuturkan, gejolak warga pada persoalan tenaga kerja muncul dilatarbelakangi karena minimnya warga masyarakat Desa Bandungrejo yang dilibatkan dalam proyek lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB). Padahal, Desa Bandungrejo adalah desa dimana sebagai tempat proyek Gas Processing Facility (GPF) JTB dan tapak sumur Gas JTB.

Kabar tersebut muncul dari sejumlah warga yang mengetahui banyak tenaga kerja luar Desa Bandungrejo ditengarai direkrut oleh para vendor. Sedangkan warga asli Bandungrejo justru sangat minim sekali yang direkrut. Dari situ kemudian para warga merasa resah karena tidak pernah mendapat sosialisasi atau informasi mengenai adanya lowongan kerja.

"Warga kami yang terdampak langsung kok malah terabaikan. Ini menimbulkan pertanyaan, ada apa. Kok malah banyak merekrut tenaga kerja dari luar. Malah standarnya juga tidak jelas. Bahkan disinyalir ada lulusan SD diterima. Sementara warga sini ijazahnya lebih tinggi kok tidak bisa," tegasnya.

"Anak-anak sini itu mudah kok. Butuhnya dapat kerjaan. Berikan saja yang sesuai dengan kemampuannya selesai," lanjutnya.

Untuk diketahui, lima vendor yang terikat kontrak dengan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) menangani pekerjaan berbeda-beda. PT GBS (Gading Bumi Sentosa) mengerjakan infrastruktur kecil, PT Global Oceania Sejahtera (GOS) menangani urusan catering. PT Jaya Sakti Mandiri Unggul (JSMU) menyediakan manpower untuk tenaga keamanan atau security.

Sedangkan PT Daya Patra menangani tenaga kerja office boy (OB), fireman, dan kendaraan. Lalu PT Angsa Emas Perdana terikat pada pekerjaan pemotongan rumput di JTB. Dari sejumlah vendor yang terikat kontrak dengan PEPC, hanya lima vendor tersebut yang hadir dalam diskusi dengan warga masyarakat Bandungrejo.(fin)

Kredit

Bagikan