Dana Abadi Migas untuk Lintas Generasi

user
nugroho 19 Juli 2016, 14:16 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com -

Oleh : Aw. Syaiful Huda*

BOJONEGORO, sebuah kabupaten kecil, terletak  di ujung barat Provinsi Jawa Timur, belakangan ini menarik perhatian banyak orang. Lebih tepatnya semenjak penemuan cadangan minyak bumi terbesar pada tahun 2001, di Lapangan Banyuurip-Bojonegoro (Blok Cepu).  Penemuan besar ini, digadang-gadang bakal menjadi ‘gacunya’ Pemerintah Pusat, disaat produksi minyak dalam negeri terus mengalami penurunan.

Data APBN P 2015, produksi minyak nasional dipatok 825.000 barel perhari (bopd). Ini menunjukkan  kemampuan target produksi minyak dalam negeri hanya mampu kisaran pada angka tersebut. Padahal untuk konsumsi minyak dalam negri sudah mencapai 1,6 juta bopd. Jadi devisit sekitar 700-an ribu bopd. Jika tidak ada eksploitasi cadangan baru, maka produksi minyak dalam negri akan terus menurun hingga 600.000 bopd (2019). Bahkan diperkirakan melorot 300.000 bopd (2025). Dengan demikian, maka APBN dapat ‘ambrol’, jika digunakan untuk menopang kebutuhan konsumsi minyak dalam negeri, yang setiap tahunnya naik sekitar 3,5 persen.

Karenanya cukup beralasan, jika Blok Cepu menjadi ‘gacu’ pemerintah untuk menopang produksi dalam negeri. Mengingat pada saat peak production, Blok Cepu dapat berproduksi sekitar 205.000 bopd. Jika digabung dengan Lapangan Sukowati dan Sumur Tua, maka kontribusi dari Bojonegoro dapat mencapai seperempat persen dari produksi minyak dalam negeri.

Alhasil, dari potensi migas ini, Kabupaten Bojonegoro menerima revenue (pendapatan) yang bersumber dari minyak dan gas bumi (migas) berupa Dana Bagi Hasil (DBH) minyak bumi sebesar 6 persen dan gas bumi sebesar 12 persen, DBH Migas untuk Pendidikan 0,2 persen. Selain itu Bojonegoro juga memperoleh pendapatan dari Participating Interest (PI) sebesar 4.48 persen – Hanya saja untuk keuntungan PI ini, Pemda harus berbagi dengan PT. SER, karena merujuk adanya kerjasama antara Pemda (PT. ADS) dengan PT. SER dalam pengelolaan PI (PT. ADS: 25 persen dan PT. SER 75 persen). Ehmm !

Kutukan Sumber Daya Alam

Melimpahnya sumberdaya alam (SDA) suatu negara atau daerah, utamanya sumberdaya ekstraktif, bukanlah jadi jaminan masyarakatnya bakal sejahtera. Justru kondisinya dapat berbalik. Banyak kajian yang menyebutkan bahwa negara-negara yang kurang akan sumber minyak dan mineral mengalami pertumbuhan PDB Perkapita lebih besar, tiga kali lipat daripada negara-negara yang kaya sumber daya (RWI:2005). Ini yang dikenal dengan istilah kutukan sumberdaya alam atau resource curse

Berikut beberapa pengalaman daerah penghasil sumberdaya ekstraktif, yang bisa menjadi refrensi, gambaran buruknya pengelolaan migas yang mengakibatkan resource curse; Pertama, pengelolaan lapangan gas Arun, Lhowseumawe-Aceh Utara. Sebuah ladang gas terbesar di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Pada masa kejayaanya, Arun bak istana dongeng. Jika pada malam hari tampak ribuan cahaya lampu berkilauan. Bandara pun dibangun di sana. Gedung-gedung pemerintahan dibangun mewah. Tapi kini, saat era kejayaan itu berakhir. Sumur-sumur gas sudah mengering. Arun kehilangan pesonanya. Keramaian dan kilauannya meredup. Daerah inipun digambarkan seperti kota mati. 

Kedua, pengalaman dari Negara Nauru. Sebuah negara yang pernah berjaya sebagai penghasil fosfat. Di tahun 1980-an, Nauru merupakan negara terkaya di dunia. Digambarkan pada saat masa kejayaanya, pemerintah Nauru dan warganya suka berfoya-foya. Karena saking kayanya penduduk Nauru malas bekerja, senang liburan, mengkonsumsi alkohol dan bentuk-bentuk hedonisme lainnya. Bahkan pada saat itu, WHO mencatat hampir 71,7 persen penduduk Nauru  kelebihan berat badan (obesitas). Kemudian pada saat fosfatnya habis,  kondisinya pun berbalik. Kondisi alamnya rusak parah. Perekonomian merosot. Dan tahun 2001-an, Nauru menjadi negara yang bergantung dan berhutang pada Australia. 

Selain itu,  pelajaran dari Sidoarjo adanya  semburan Lapindo.  Begitu pula di Maluku ada 25 Blok Migas, tetapi kemiskinan di provinsi ini masuk terbesar ketiga di Indonesia. Lalu Papua dengan potensi SDA emasnya, tetapi angka kemiskinan justru tertinggi di Indonesia. Fenomena ini menjadi refrensi/pembelajaran bagi Kabupaten Bojonegoro  agar sumberdaya alam-migas agar dikelola dengan sebaik-baiknya. Agar tidak terjadi kutukan sumberdaya alam. Ibarat migas itu air, maka disaat menungkannya ke dalam gelas, harus penuh kehati-hatian agar air tidak tumpah kemana-mana.

Dana Abadi Migas untuk Lintas Generasi

Sumberdaya migas hakikatnya merupakan sumberdaya yang tak terbarukan (non-renewable). Karena pasti akan habis. Data proyeksi produksi Blok Cepu, pada tahun 2030 diperkirakan menurun menjadi sekitar 10 ribu-an barel perhari. Oleh sebab itu daerah harus punya strategi untuk menjaga keberlangsungan penerimaan revenue (pendapatan) disaat produksi migas mulai menipis. Disamping itu juga kecenderungan  daerah penghasil migas  rentan mengalami  volatilitas (naik-turun) anggaran, disebabkan dipengaruhi  harga  migas (global). Naik turunnya pendapatan berpengaruh terhadap proyeksi  anggaran dan perencanaan pembangunan yang realistis. Kerena pada saat penerimaan pendapatan migas ‘nyungsep’ daerah penghasil migas terancam gagal bayar, program pembangunan yang sudah direncanakan harus di-reschedule dan beberapa program pembangunan terancam tidak bisa terelaisasi.

Adanya Dana Abadi Migas diharapkan bisa menjaga keberlangsungan penerimaan revenue dari migas. Artinya pada saat penerimaan revenue dari migas turun, Dana Abadi Migas terus meningkat. Selain itu juga dapat berfungsi untuk stabilasasi fiscal. Ketika daerah mengalami volatilitas-penurunan pendapatan  yang sangat ekstrim, maka Dana Abadi Migas dapat dipinjam.

Alasan pembentukan Dana Abadi Migas juga dorongan  moral untuk mendistribusikan sumberdaya migas yang adil bagi generasi saat ini dan generasi akan datang. Kebijakan saving (menabung) dalam bentuk Dana Abadi Migas ini, agar generasi akan datang ikut menikmati revenue dari migas serta memiliki modal pembangunan yang cukup.

Berdasarkan poin-poin di atas, membuat beberapa pihak; Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan termasuk Bojonegoro Institute, NRGI dan beberapa pihak lainnya berinisiatif perlunya Kabupaten Bojonegoro membentuk Dana Abadi Migas. Yaitu sebuah kebijakan untuk menghimpun atau menyisihkan dana dari sektor migas dengan tujuan jangka panjang (sustainability). Misalnya menabung(saving)  untuk generasi mendatang, stabilisasi dan sterilisasi fiskal dan lain sebagainya.

Beberapa negara/ sub-negara sudah banyak yang menerapkan praktek Petroleum Fund ini. Misalnya Abu Dhabi, Kanada, Alaska-AS, Texas-AS, Iran, Mexico, Malaysia, Timor Leste dan masih banyak lagi lainnya. Namun dari bentuk petroleum fund yang sudah ada, semuanya dibuat oleh negara atau negara bagian. Belum ada satupun di dunia, suatu kebijakan petroleum fund dalam bentuk sub-national  (kabupaten). Maka jika Bojonegoro menerapkan Petroleum Fund, maka ini satu-satunya inovasi baru di dunia.

Besaran Nilai Dana Abadi Migas

Besaran Dana Abadi Migas pada awalnya diusulkan sebesar 30 Triliun. Tetapi dengan mempertimbangkan harga migas turun, maka target besaran dana abadi diturunkan jadi sekitar 15-20 trilyun. Besaran nilai Dana Abadi Migas ini akan dihimpun dalam kurun waktu 30 tahun ditambah 20 tahun, bahkan bisa diperpanjang. Adanya mekanisme perpanjangan  ini dibuat, agar simpanan pokok Dana Abadi Migas tidak dapat diambil untuk menjaga sifat keabadiannya. Selain juga mengikuti aturan main/peraturan tentang investasi pemerintah daerah.

Besaran nilai dana abadi migas, akan dialokasikan setiap tahun dalam APBD Kabupaten Bojonegoro dalam bentuk pembiayaan investasi jangka panjang non-permanen. Mekanisme tentang berapa nilai alokasi APBD yang disisihkan untuk Dana Abadi Migas setiap tahunnya diusulkan berdasarkan proyeksi pendapatan SDA. Yaitu sebesar 40% dari rata-rata 5 (lima) tahun seluruh pendapatan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) Minyak dan Gas Bumi dan Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan (DBH PBB) sektor Pertambangan berdasarkan realisasi 3 (tiga) tahun sebelumnya, anggaran tahun yang berjalan, dan proyeksi satu tahun mendatang. Serta seluruh Participating Interest (PI)  yang diterima Kabupaten Bojonegoro pada tahun berjalan.

Agar nilai pokok Dana Abadi Migas memiliki nilai tambah - memperoleh keuntungan yang wajar dan aman, maka direkomendasikan untuk diinvesatasikan dalam bentuk  deposito dan pembelian Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Adapun penerimaan pendapatan dari hasil investasi Dana Abadi Migas diusulkan dalam draft Raperda Dana Abadi Migas, hanya dapat dipergunakan untuk peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial budaya.

Sedangkan lembaga pengelola Dana Abadi Migas, berbetuk BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Selain karenan beberapa kelebihan BLUD, juga merujuk model Dana Abadi Pendidikan yang dibentuk oleh Pemerintah Pusat yang dikelola oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang berbentuk Badan Layanan Umum (BLU). Selanjutnya untuk menjaga sifat keabadian Dana Abadi Migas, ketika keinginan melakukan perubahan dan/ pencabutan Perda Dana Abadi Migas digunakan mekanisme konsultasi publik, menggantikan istilah referendum, yang dianggap terlalu sensitif.

Transparansi  Dana Abadi Migas

Dalam pengelolaan Dana Abadi Migas, harus  menerapkan  akuntabilitas, transparansi, partisipasi masyarakat, profesionalisme dan bebas dari konflik kepentingan. Nilai-nilai ini  diejawentahkan dalam manajemen pengelolaan Dana Abadi Migas. Upaya yang dilakukan, diantaranya membentuk lembaga independen yang terdiri dari unsur-unsur masyarakat, yang berfungsi terlibat dalam pegawasan, penetapaan alokasi dan penggunaan dana, monitoring dan evaluasi pengelolaan Dana Abadi Migas, dengan nama Wali Amanat. Dan kewajiban bagi pengelola Dana Abadi Migas untuk mentransparansikan melalui sistem informasi publik.

Demikian, semangat pembentukan Dana Lintas Generasi (Dana Abadi Migas) adalah belajar dari pengalaman daerah-daerah pengahsil migas, termasuk  Arun-Aceh Utara, Sidorjo, Nauru dan daerah atau negara lainnya dengan cerita yang hampir sama. Intinya  generasi kita nanti biar tidak ngersulo, karena hanya mewarisi cerita bahwa Bojonegoro pernah berjaya dan terkenal akan migasnya.  Kita yang hidup saat ini, juga tidak menanggung beban, dianggap rakus oleh generasi mendatang. Salam !

Penulis adalah Direktur Bojonegoro Institute

 

Kredit

Bagikan