Dwi Adinda Menjajal Kemampuan Wawancara Lewat Program EXATA

user
Sasongko 08 Oktober 2022, 19:28 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Madrasah Ibtidaiyah International Class Program (ICP) Nurul Ulum Bojonegoro, Jawa Timur, memperkenalkan kesenian oklik lewat program EXATA (Exploration Personal Talent). Program ini bertujuan menggali bakat siswa dalam bidang presenter.

Di program EXATA, dimanfaatkan oleh salah satu peserta Dwi Adinda untuk menjajal kemampuannya dalam wawancara dengan dua narasumber tentang kesenian asli Bojonegoro. Yakni Kepala Desa (Kades) Sobontoro, Kecamatan Balen, Mursim, dan Darminto, salah satu pegiat oklik setempat, Sabtu (08/10/2022).

Kepada siswi kelas 3 MI ICP Nurul Ulum itu, Kades Musim menuturkan, bahwa oklik, konon sudah ada di Desa Sobontoro sejak jaman Belanda. Berawal dari adanya pagebluk lalu warga desa membuat bunyi-bunyian dari bambu.

"Bunyi-bunyian itulah yang kemudian dinamakan oklik," tutur Mursim.

Dijelaskan, bahwa kesenian oklik masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan, pada 13 Oktober 2022 mendatang akan diadakan acara launching Oklik Bojonegoro di Lapangan Desa Sobontoro.

"Tujuannya tentu agar kesenian oklik lebih dikenal," jelasnya.

Untuk menggali informasi tentang oklik lebih lanjut, Dwi Adinda juga menemui Darminto, tokoh pelestari kesenian oklik Sobontoro yang sekaligus dikenal sebagai pewaris kesenian oklik generasi ketiga di Bojonegoro.

"Ada empat jenis kentongan dari bambu untuk oklik ini, yaitu gedhuk, klur, tintil kerep, dan tintil arang," terang
Darminto.

Pria 67 tahun ini mengaku, sejak kecil sudah menyukai oklik. Saat beranjak remaja, ia sudah menjadi pelaku kesenian oklik. Salah satu yang dikenangnya, pernah mengenalkan seni oklik di acara televisi kisaran tahun 1979.

"Kami menaruh asa agar kesenian oklik dapat dikenal secara mendunia dan tetap dilestarikan oleh generasi berikutnya," harap Darminto.

Sementara itu, Dwi Adinda mengaku, senang dan bangga, karena berhasil mewawancarai para tokoh utama dalam sejarah oklik yang berasal dari Desa Sobontoro. Meski begitu, Adinda masih merasa perlu banyak bimbingan dari para gurunya.

"Mudah-mudahan Bapak dan Ibu guru tak pernah jenuh membimbing saya," ucapnya.(fin)

Kredit

Bagikan