Peringatan HPN, Arieyoko : Tuntutan Jurnalis Lebih Berat

user
nugroho 09 Februari 2022, 15:55 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Sastrawan dan Editor Buku, Arieyoko menyebut, tuntutan jurnalis di era kini lebih berat. Karena di era digital sekarang ini dengan bermodalkan smartphone siapapun bisa menjadi "wartawan" yang memberikan kecepatan informasi.

Hal tersebut disampaikan Arieyoko saat didaulat membagikan pengalamannya dalam dunia kewartawanan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Warung K-noman, Desa Campurejo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (9/2/2022).

Mantan wartawan Republika itu kemudian menyampaikan flash back era persiapan PWI Bojonegoro pertama kali. Dimana dirinya menjadi ketua yang pertama. Dan berbagai dinamika yang terjadi pada saat itu. Serta pemaparan fenomena diistilahkan sebagai "Wartawan Bodrex" yang sejak dulu ada.

"Memang posisi wartawan itu adalah kerja yang abu-abu. Artinya, pada satu sisi tetap harus melakukan interaksi yang proporsional dan profesional kepada pemda. Di satu sisi harus tetap membela demokrasi, kepentingan rakyat dan sebagainya," ujarnya.

Tidak berarti dahulu tidak ada konflik, Arie mengatakan justru ada dan banyak. Dengan intonasi yang menggeliat dan memikat, ia menyebut terjadi peristiwa yang membuat geger dan ramai hingga menjadi berita di media-media besar. Yaitu saat pengelolaan sumur minyak Wonocolo akan dijadikan koperasi.

"Ketika itu kami diundang Muspida, kami tidak mau hadir di pendapa, karena koperasi yang akan mengelolanya saat itu banyak persoalan. Sampai keesokan harinya melibatkan Kodim 0813 untuk memediasi," ujarnya berkisah.

Menurut Arieyoko memasuki zaman metaverse sekarang ini tuntutan jurnalis lebih berat. Musababnya, netizen bisa menjadi "wartawan" dengan bermodalkan hand phone. Bahkan, secara kecepatan informasi, wartawan harus mengakui kalah dengan netizen.

"Lalu apa beda dan kelebihan jurnalis dengan netizen, bedanya ialah karena jurnalis bisa melakukan kroscek, bisa melakukan 5W dan 1H, jurnalis juga memiliki hak bertanya kepada narasumber dan kemudian melengkapinya menjadi berita yang utuh," terangnya.

Selain itu, fenomena wartawan bodrex disebut ada dari era ke era. Perbedaan yang jelas akan tampak dari kualitas berita yang disajikan. Apakah berita yang disampaikan membela kepentingan masyarakat atau penguasa.

Dari situlah, lanjut Arieyoko, masyarakat akan memilah dan menilai. Sehingga akan jelas terlihat mana wartawan sungguhan dan mana wartawan yang dikatakan bodrex.

"Wartawan sungguhan beritanya pasti jelas. Masyakarat akan tahu mana wartawan yang betul dan mana yang cuma jadi ngathok (menjilat). Jadinya bagaimana, tetaplah bekerja secara profesional, biarkan publik yang menilai," tandasnya.

Peringatan HPN yang diselenggarakan SMSI Bojonegoro tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Budi Irawanto, Ketua SMSI Bojonegoro, Sasmito Anggoro beserta pengurus, perwakilan Humas Polres, Humas Brimob Bojonegoro, para pimpinan perusahaan media massa, dan perwakilan Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Cepu.

Kemudian, para praktisi hukum, budayawan, serta sejumlah anak yatim dan kaum dhuafa yang diundang untuk mendapat santunan dari SMSI Bojonegoro.

Wabup Bojonegoro Budi Irawanto dalam sambutannya menyampaikan harapan, agar insan media tetap rukun,kompak, bersatu dan profesional. Artinya tetap menyajikan berita yang sesuai fakta kepada masyarakat. Jangan lantas memberitakan berbeda karena ada kepentingan.

"Jangan jadi lucu, media satu memberitakan sesuai fakta sebenarnya dan ada di lokasi, sementara media yang satunya tidak tahu apa-apa mengkanter dengan berita yang berbalik. Harapan kami SMSI dapat menertibkan media-media yang kurang kredibel," kata pria yang akrab disapa Mas Wawan.

"Kalau mau menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah, ayo bersama sama membangun Bojonegoro, saya tidak anti kritik. Bahkan berterima kasih dengan temuan teman-teman wartawan di lapangan," lanjutnya.(fin)


Kredit

Bagikan