Duplik Terdakwa Rozi Sebut Jaksa Lakukan Cara Tidak Yuridis

user
samian 02 Februari 2022, 22:27 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Terdakwa perkara pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Muhamad Rozi menyebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah melakukan cara yang dinilai tidak yuridis dalam replik terhadap Pleidoi yang disampaikannya pada sidang terdahulu pada 25 Januari 2022.

Hal itu dituangkan dalam duplik terhadap replik JPU yang dibacakan oleh pria yang juga menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPDR) Bojonegoro, Jawa Timur, pada sidang yang digelar di ruang Cakra Pengadilan Negeri Bojonegoro, Rabu (02/02/2022).

"Dalam persidangan ini, kami menyampaikan beberapa poin sekaligus penegasan dan jawaban kami Replik Saudara Jaksa Penuntut Umum," kata Muhamad Rozi.

Dikatakan, sebagaimana dalam replik Jaksa Penuntut Umum pada point 2 yang menerangkan bahwa dipersidangan saksi Rissa Prabawati menerangkan mendengar teriakan minta tolong dari saksi korban, lalu saksi Rissa Prabawati yang saat itu berada di ruang dapur, dimana jarak antara ruang dapur dengan ruang garasi depan kurang lebih 21 meter, langsung keluar dan menuju ruang garasi.

Bahwa dalam fakta persidangan saksi Zulma Dwi Satrio Putro Bin Maksum yang saat itu berada di lorong garasi dimana jarak antara lorong garasi dengan ruang garasi depan kurang lebih 7 meter, sama sekali tidak mendengar ada teriakan minta tolong dari saksi korban, demikian juga dengan saksi Khoirum yang pada saat itu berada di depan rumah terdakwa juga tidak mendengar suara minta tolong.

Sebagaimana dalam replik Jaksa Penuntut Umum pada point 15 yang menerangkan bahwa dipersidangan saksi korban menerangan terdakwa memegang erat lengan atau tangan kanan saksi korban untuk merebut dua unit HP yang dibawa saksi korban, sehingga genggaman erat terdakwa tersebut dapat menimbulkan memar pada lengan atau tangan kanan saksi korban.

Bahwa dalam fakta persidangan dengan sangat jelas saksi korban tidak pernah menyampaikan keterangan bahwa terdakwa memegang dengan erat lengan atau tangan kanan saksi korban, hal ini dikuatkan oleh saksi Khoirum yang dengan sangat jelas menyampaikan keterangan di depan persidangan bahwa melihat saksi korban keluar rumah sendirian dan pada saat maupun setelah membuang HP dengan posisi saksi korban tetap berdiri dan tidak terjatuh.

Bahwa dalam fakta persidangan dengan sangat jelas saksi Nova Ari Susanto menerangkan telah memijat lengan kanan dan kiri saksi korban 3 jam sebelum saksi korban melakukan Visum et repertum, dan saksi Nova Ari Susanto juga telah menerangkan bahwa tidak memiliki keahlian fisioterapi dan hal ini dibuktikan saksi Nova Ari Susanto tidak memiliki licensi atau sertifikasi dibidang fisioterapis.

Bahwa dalam fakta persidangan dengan sangat jelas Ahli dr. Juli Puwaningrun, SpFM dan dr. Imam Bakhrudin Sp.Ot yang menyatakan bahwa pijat dapat mengakibatkan memar atau bengkak.

Bahwa atas dasar tersebut mohon kepada majelis hakim yang mulia untuk tidak terjebak dengan cara-cara tidak yuridis yang dilakukan oleh JPU diatas, yang secara parsial dan sepotong-potong telah memaknai dan menyimpulkan materi pembelaan saya terdahulu, dan dengan menolak semua dalil-dalil dalam surat tuntutan dan Replik Penuntut Umum sebelumnya.

Dan memberikan putusan yang seadil-adilnya bagi saya Terdakwa; Bahwa berdasarkan uraian dan penegasan kami terhadap Replik Jaksa Penuntut Umum atas Pleidoi kami terdahulu tertanggal 25 Januari 2022, maka saya dengan tegas menolak semua materi Replik Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini.

Serta menyatakan secara tegas tetap bertahan dengan pembelaan atau Pleidoi kami yang telah kami bacakan dan sampaikan pada persidangan tanggal 25 Januari 2022. Serta memohon kepada Ketua dan Majelis Hakim yang mulia yang menyidangkan perkara saya ini untuk dapat memutus perkara ini dengan berpedoman kepada "Keadilan bagi saya Terdakwa Muhamad Rozi, SH Bin H. Marsono" untuk dapat mempertimbangkan semua uraian, penegasan serta pembelaan dan jawaban/tanggapan/Duplik kami diatas.

"Demikianlah Duplik atas Replik Saudara Jaksa Penuntut Umum ini kami bacakan dan serahkan, pada hari Rabu, tanggal 02 Februari 2022 dipersidangan yang mulia ini," ujarnya.

"Dan saya memohon kepada Majelis Hakim yang mulia untuk dapat memeriksa, mempertimbangkan dan mengadili perkara ini menurut fakta hukum dan keyakinan Majelis Hakim, sehingga akan diperoleh suatu kebenaran materiil dan keadilan yang seadil-adilnya bagi saya Terdakwa," pungkasnya.

Sidang selanjutnya dengan agenda putusan Majelis Hakim bakal digelar pada Selasa, 15 Januari 2022.(fin)

Kredit

Bagikan