Jaksa Dekry Tolak Nota Pembelaan Terdakwa Rozi

user
samian 01 Februari 2022, 02:01 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dekry Wahyudi menolak nota pembelaan (Pledoi) yang disampaikan oleh Terdakwa perkara pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Muhamad Rozi, Senin (31/01/2022).

Hal itu terungkap dalam sidang yang digelar di ruang kartika Pengadilan Negeri Bojonegoro, Jawa Timur. JPU menolak pembelaan Rozi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro yang didakwa melakukan tindak pidana KDRT terhadap istrinya sendiri, Anik Susilowati.

Jaksa Dekry keberatan dengan pendapat terdakwa yang tertulis dalam pledoi. Salah satunya, seperti pada pembelaan terdakwa tentang hasil visum et repertum yang dibuat dan ditandatangani oleh dr. Juli Purwaningrum, Dokter pada Rumah Sakit Bhayangkara Bojonegoro.

Sesuai hasil visum, bahwa pada anggota gerak atas bagian kanan, lengan bawah sisi luar, tujuh centimeter di atas pergelangan tangan didapatkan luka memar, bentuk lingkaran, warna merah, diameter dua centimeter.

Sedangkan pada anggota gerak atas bagian kiri, tepat pada siku kiri didapatkan luka memar bentuk lingkaran, warna merah, diameter dua centimeter.

Berdasarkan keterangan saksi korban dalam surat tuntutan poin ke 8, terdakwa mendorong bahu kanan saksi korban hingga terjatuh dengan tumpuan siku tangan kiri saksi korban. Terdakwa berpendapat hal itu bertentangan dengan hasil visum.

Menurut terdakwa, jika bahu kanan korban didorong oleh terdakwa hingga terjatuh ke kiri dan pada saat terjatuh dengan tumpuan siku tangan kiri, seharusnya memar berada pada siku tangan kiri dan lengan tangan kiri. Namun hasil visum memar juga terdapat pada lengan pergelangan tangan kanan saksi korban dengan bentuk dan diameter yang sama.

Terhadap pendapat Terdakwa tersebut, Jaksa menyampaikan tidak sependapat. Karena di persidangan, saksi korban menerangkan bahwa terdakwa memegang erat lengan atau tangan kanan saksi korban untuk merebut dua unit hand phone (HP) yang dibawa oleh saksi korban.

"Sehingga genggaman erat tersebut dapat menimbulkan memar pada lengan atau tangan kanan saksi korban, maka dengan demikian pembelaan terdakwa seharusnya ditolak," ujar JPU Dekry Wahyudi.

Atas replik JPU tersebut, Terdakwa Rozi sempat mengajukan skors 30 menit untuk langsung membuat tanggapan. Tetapi Hakim Ketua Zainal Ahmad meminta agar Terdakwa menyampaikan secara tertulis dalam sidang selanjutnya pada Rabu, 4 Februari 2022.(fin)

Kredit

Bagikan