DPU SDA Bojonegoro Bakal Kembalikan Fungsi Tanggul Kedungprimpen

user
samian 28 Januari 2022, 20:25 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Guna mengantisipasi kejadian tanggul jebol kembali, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU SDA) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan kembalikan fungsi tanggul Kedungprimpen sebagaimana mulanya.

Pasalnya, ditengarai penyebab jebolnya tanggul di Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur belum lama ini karena fungsi tanggul sudah berubah.

Kepala DPU SDA Bojonegoro, Erik Firdaus mengatakan, bahwa tanggul di Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor disinyalir sudah berubah fungsi. Artinya, seharusnya tanggul memiliki lebar 3 sampai 4 meter, namun lebarnya saat ini tinggal sekira 1 sampai dengan 1,5 meter. Hal itu berakibat pada kemampuan tanggul untuk menahan tekanan air yang begitu besar menjadi berkurang.

"Dan akhirnya tanggul jebol," katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Jum'at (28/01/2022).

Selain lebar tanggul berkurang, kata Erik, di atas tanggul seharusnya tidak boleh ada tanaman seperti ditanami pohon pisang. Sebab akan mengakibatkan berkurangnya konstruksi tanah tanggul.

"Akibatnya kekuatan tanggul juga melemah," ujarnya.

Ditambahkan, dalam waktu dekat PU SDA akan melakukan normalisasi sungai maupun normalisasi tanggul. Pihaknya akan kembalikan tanggul itu sebagaimana semula sesuai dengan batas lebar, batas wilayah dari sungai sampai seberapa, termasuk tanggulnya.

"Kami akan normalisasi tanggul dan kami dalamkan untuk sungainya supaya memuat volume lebih besar agar tidak mudah banjir apabila ada kiriman air," tambahnya.

Selanjutnya, pihaknya juga akan mengajak pemerintah desa setempat untuk melakukan pengukuran dan sosialisasi kepada warga. Sebab masyarakat harus memahami kalau tanggul memiliki lebar 3 sampai 4 meter.

"Jadi nanti kalau ada pengukuran dan mengambil lahan tanggul yang sekarang di ambil warga menjadi persawahan, ya harus dikembalikan untuk tanggul sebagaimana fungsinya," tandasnya.

Terkait konsep pembangunan, menurut Erik, saat ini lebih difokuskan pada normalisasi tanggul lebih dulu. Jika normalisasi selesai dilakukan, lanjutnya, baru ditentukan bagaimana konsep pembangunan tanggul untuk jangka panjang. Setelah itu baru konsep yang permanen ditentukan. Apakah dari tembok, tanah dan lainnya.

"Harapan kami setelah dinormalisasi tidak lagi terjadi tanggul jebol dan tidak lagi merugikan masyarakat," pungkasnya.(fin)

Kredit

Bagikan