PKL dan Pedagang Lesehan Ramai-ramai Tolak Pindah ke Pasar Wisata Bojonegoro

user
samian 07 Januari 2022, 22:02 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Setelah sebelumnya terjadi penolakan pindah oleh pedagang Pasar Kota Bojonegoro, kini para pedagang lesehan, pedagang kaki lima (PKL) pedagang eks Taman Bengawan Solo (TBS) ramai-ramai menolak pindah ke pasar wisata, Jum'at (07/01/2022).

Penolakan para pedagang yang tidak memiliki kios, toko, dan bidak untuk berjualan itu disampaikan pada kegiatan sosialisasi tindak lanjut penataan pedagang Pasar Bojonegoro ke Pasar Wisata Bojonegoro, di Pendapa Malawapati.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Nurul Azizah, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Kadisdagkop UM) Sukaemi, Asisten II Bidang Perekonomian Kusnandaka Tjatur dan terkait lainnya.

Kadisdagkop Sukaemi, menyampaikan bahwa sesuai hasil rapat di DPRD kemarin, para pedagang yang diundang sosialiasi itu didahulukan untuk mengikuti undian selama tiga hari, mulai tanggal 8,9, dan 10 Januari 2022 sesuai zona.

"Artinya zona itu dikumpulkan sesuai dengan yang diperdagangkan. Misal pedagang sayur berkumpul sesama pedagang sayuran. Baru kemudian tanggal 11 sampai 15 penjenengan diberi kesempatan menempati tempat hasil undian," ujarnya.

Penyampaian Sukaemi tentang penataan di pasar wisata disambut kegaduhan teriakan penolakan dari para pedagang. Bahkan, meskipun sebelumnya telah ada iming iming pemberian insentif sebesar Rp5 juta untuk usaha mikro yang dijabarkan oleh Asisten II Kusnandaka Tjatur.

Ketua Paguyuban Pedagang Eks TBS, Mundakir, dari kelompok pedagang burung. Ia mengaku, sudah tiga bulan kesulitan makan akibat terkena gusuran. Ia mengeluhkan tempat yang ditawarkan di pasar wisata tidak sesuai untuk berdagang burung.

"Bangunannya bagus, tapi bidaknya terbuka. Keamanannya bagaimana. Seharusnya bisa tertutup. Soalnya, harga burung perkutut per ekornya bisa sampai Rp10 sampai Rp20 juta," katanya.

Disambung oleh perwakilan PKL, Adi Irawan. la mengaku, sangat miris dengan ukuran tempat yang ditawarkan di pasar wisata. Lantaran terlalu sempit, cuma berukuran 1,5x2 meter.

"Pasar pun masih di sini, kalau kami direlokasi ke sana, yang beli siapa. Kami menolak di pindah," tandasnya.

Tidak sampai Sekda Nurul Azizah selesai menyampaikan ucapan menutup kegiatan, para pedagang membubarkan diri.(fin)

Kredit

Bagikan