Dilarang Liputan, Wartawan di Bojonegoro Datangi DPRD

user
samian 04 Januari 2022, 12:00 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Sejumlah wartawan di Bojonegoro yang tergabung dalam Forum Jurnalis Bojonegoro Peduli Kebebasan Pers menggelar aksi damai di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (04/01/2022).

Aksi damai untuk menyampaikan beberapa tuntutan itu dilakukan buntut dari pelarangan liputan yang menimpa awak media di RSUD Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro terkait padamnya aliran listrik selama kurang lebih 30 menit. Kejadian tersebut membuat para pasien dan keluarga pasien panik berhamburan menuju keluar lokasi rumah sakit pada 29 Desember 2021 sekitar pukul 21.10 WIB.

Data yang dihimpun di lapangan menyebutkan, pada aksi yang digelar Forum Jurnalis Bojonegoro Peduli Kebebasan Pers, menyampaikan pernyataan sikap:
1. Pers bebas mutlak memberikan informasi kepada masyarakat termasuk dalam memberikan hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, agar masyarakat mengetahuinya.
2. Meminta kasus penghalangan liputan ditindaklanjuti sesuai UU Pers.
3. Pers bebas memuat pemberitaan tentang segala jenis peristiwa/kasus/kejadian yang melibatkan pejabat negara.
4. Mendesak agar APH menegakkan UU Pers dan mendukung keterbukaan informasi publik.

Dalam orasinya, Sekretaris SMSI Kabupaten Bojonegoro, Kustaji, menyampaikan keprihatinannya adanya pelarangan atau penghalangan liputan oleh oknum petugas keamanan rumah sakit kepada salah satu wartawan di Bojonegoro. Hal tersebut tentu sangat menciderai kebebasan pers.

"Ini sama halnya pematian kebebasan pers, khususnya yang akan melakukan tugas liputan di Kabupaten Bojonegoro," katanya.

Dijelaskan bahwa kejadian padamnya listrik tersebut patut diduga merupakan keteledoran pihak rumah sakit, bagaimana dengan RSUD kelas tipe B harus mengalami listrik padam hingga 30 menit.

"Itu nyata-nyata merugikan masyarakat bahkan pasien," ungkap Jurnalis kabarpasti.com lantang.

Sementara Sasmito Anggoro, Wartawan suarabojonegoro.com menyampaikan, dimana bahwa pihak RSUD Bojonegoro telah melakukan penghalangan, penjegalan, pembegalan tugas dan hak insan media dalam melakukan peliputan.

"Sebab yang ada di Bojonegoro adalah mendeskriditkan kami, memusuhkan kami dengan media dan jurnalis lainnya," katanya.

"Berita-berita kami yang seharusnya layak diinformasikan kepada masyarakat harus ditandingkan bahkan diplintir dengan berita dari media yang ditengarai berpihak kepada kepentingan penguasa," tandas Sasmito.

Di tempat yang sama, Edi Kuntjoro jurnalis Netpitu.com juga meneriakkan tuntutan di aksi di depan kantor DPRD Bojonegoro.

"Kita datang kesini untuk kemerdekaan kebebasan pers, sebab kita dilindungi undang undang dasar 1945. Sehingga kita bekerja secara profesional sesuai kode etik jurnalistik," ucap Edi.

Edi menambahkan, bahwa tidak ada maksud iri dengan media yang berpihak di sana, namun entah itu siapa saja pejabatnya tidak boleh takut dan harus melawan apabila ada yang hendak membunuh kebebasan pers.

"Sebab tugas kita mencari informasi untuk masyarakat. Diharapkan dengan datang ke DPRD dapat menjembatani dengan pihak RSUD," imbuhnya.

Guna mendengar tuntutan dari sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Bojonegoro Peduli Kebebasan Pers, pimpinan DPRD Kabupaten Bojonegoro selanjutnya mengajak berdiskusi di ruang paripurna. (fin)

Kredit

Bagikan