Jurnalis Dihalangi Liputan di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, AJI : Itu Bisa Dipidana

user
nugroho 30 Desember 2021, 22:30 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro -  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bojonegoro, Jawa Timur menyayangkan sikap RSUD Sosodoro Djatikoesoemo yang menghalang-halangi tugas jurnalis melakukan liputan. Perbuatan tersebut bisa diancam pidana dua tahun penjara karena melanggar UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Peristiwa tersebut menimpa Jurnalis TvOne, Dewi Rina Handayani saat melakukan tugas liputan padamnya listrik di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, Rabu (29/12/2021) malam. Dewi, panggilan akrabnya, dihalang-halangi oleh satpam RSUD Sosodoro saat mengambali gambar. Bahkan, gambar video yang dia ambil sempat diminta untuk dihapus oleh Satpam.

Dewi menjelaskan dirinya datang ke RSUD Sosodoro Djatikoesome setelah mendapat informasi dari masayarakat jika listrik di rumah sakit tersebut padam. Untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut dirinya langsung datang ke lokasi, dan mengambil gambar video kondisi gedung rumah sakit yang gelap gulita dari pintu masuk, sekitar pukul 21.15 Wib.

"Karena media saya televisi, saya butuh visual. Sehingga saya langsung mengambil video dari depan pintu masuk," ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Kamis (30/12/2021).

Baru saja mengambil tiga gambar suasana gelap dan beberapa saat listrik menyala, Dewi melanjutkan tiba-tiba didatangi oleh seorang Satpam RSUD. Satpam itu melarangnya mengambil video lagi. Meskipun dirinya sudah memperkenalkan diri dari media televisi, dan tugasnya melakukan liputan dilindungi UU Pers.

"Sudah saya jelaskan, tapi tetap dilarang. Bahkan satpam itu meminta agar semua video yang saya ambil agar dihapus. Tapi permintaan itu tidak saya turuti," ujarnya.

Dewi mengaku pada malam itu juga sudah menghubungi Humas RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, dr. Thomas, tapi tidak mendapatkan jawaban.

Ketua AJI Bojonegoro Deddy Mahdi Asalafie menyayangkan tindakan pihak RSUD Sosodoro Djatikoesoemo yang menghalang-halangi tugas jurnalis melalukan liputan. Sebab, tugas jurnalis dilindungi oleh Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Deddy menjelaskan, sesuai Pasal 18 ayat (1) UU Pers, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.

"Di UU Pers itu sudah dijelaskan secara gamblang, siapapun tidak boleh menghalang-halangi tugas jurnalis. Karena Pers Nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Apalagi peristiwa matinya listirik di RSUD menjadi perhatian publik karenanya menyangkut nyawa manusia," tegasnya.

Deddy menambahkan seharusnya pihak rumah sakit atau instansi-instansi pemerintah yang lain memberikan pemahaman kepada pegawainya terkait tugas jurnalis dan bagaimana seharusnya menghadapinya.

"Agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," tandasnya.

Senada disampaikan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bojonegoro Sasmito Anggoro. Ia menyayangkan tindakan anggota satpam RSUD Sosodoro Djatikoesoemo yang melarang wartawan liputan. Apalagi pengambilan gambar yang dilakukan Wartawan Tv One, Dewi Rina Handayani di pintu masuk RSUD. Bukan di tempat-tempat atau lokasi di dalam ruangan tindakan medis.

"Sebagai lembaga publik seharusnya RSUD lebih transparan dalam memberikan informasi ke masyarakat. Bukan justru menghalang-halangi tugas wartawan," tegas Koordinator SMSI Bojonegoro, Lamongan , Tuban dan Gresik ini.

Menganggapi kejadian tersebut, Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) RSUD Sosodoro Jatikusumo dr. Thomas menjelaskan jika area halaman rumah sakit menjadi wewenang Satpam, karena berhubungan dengan keamanan. Namun demikian, jika akan mengambil video atau mengambil gambar harus seizin Humas atau Direktur RSUD.

"Seperti kendaraan hilang di halaman atau tempat parkir, pasti pertama yang diintrograsi polisi adalah Satpam," ujarnya memberikan ilustrasi.

"Tapi kalau menurut saya pribadi, kalau mengambilnya gambar dari situ ya nggak apa-apa. Karena kita sudah memasang tulisan di lokasi-lokasi atau tempat yang memang tidak diperbolehkan mengambil gambar atau video," lanjut dr. Thomas.

Dokter Gigi ini juga menjelaskan peristiwa yang terjadi di RSUD Sososoro Rabu malam kemarin bukan karena listrik mati. Melainkan voltase listrik menurun, sehingga perlu menyalakan genset secara manual.

"Kalau listrik padam, genset secara otomatis akan menyala. Tapi kemarin itu voltasenya turun, sehingg perlu waktu sekitar 10-15 menit menyalakan genset secara manual," terangnya sambil memastikan saat kejadian tidak ada kepanikan dari pasien.(suko)


Kredit

Bagikan