Pedagang Pasar Kota Bojonegoro Tolak Dipindah ke Tempat Baru

user
samian 25 Desember 2021, 17:16 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Para pedagang Pasar Kota Bojonegoro, Jawa Timur, memutuskan menolak untuk dipindahkan ke tempat baru. Penolakan tersebut dicapai dalam pertemuan yang dihadiri 70-an orang perwakilan pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Kota Bojonegoro, di musholla pasar setempat, Sabtu (25/12/2021).

Ketua Paguyuban Pegadang Pasar Kota Bojonegoro, H. Warsito mengungkapkan, bahwa ia mengundang para pedagang bermaksud untuk silaturahmi sekaligus menyatukan visi misi berkenaan beredarnya rumor yang menyebut bahwa pedagang pasar kota bakal dipindah ke tempat yang baru.

"Jadi ini bukan demo, ini pertemuan menyikapi aduan yang isunya sudah berkembang di media massa. Ada yang tanya ke saya, Pak katanya pasar mau dipindah?, Pak katanya pedagang mau dipindah?. Jadi ini biar jelas, apa nanti hasilnya. Selanjutnya saya serahkan pertemuan ini kepada perwakilan pedagang," ungkapnya.

Salah satu perwakilan pedagang pasar kota, Khoiron mengaku, sejak 24 November 2021 lalu ia mendapat bocoran, bahwa para pedagang setempat telah disebut sebagai eks pedagang pasar kota. Penyebutan itu dinilai tidak manusiawi. Padahal sampai hari pertemuan ini digelar, belum pernah ada sosialisasi yang diterima para pedagang.

"Artinya kita ini sudah tidak dianggap ada di sini. Tetapi, sampai hari ini kita belum pernah satupun menerima surat yang memerintahkan kami pindah. Terkait itu, yang jelas kami di sini tidak melawan pemerintah, kami hanya mempertahankan hak yang kami miliki," tandasnya.

Sementara itu, Agus Mujiono yang bertindak sebagai advokat para pedagang pasar menjelaskan, kios, bedak, dan los di pasar kota adalah milik para pedagang. Yang kepemilikannya diatur melalui perjanjian sewa beli antara pedagang dengan PT. Alimdo Ampuh Abadi sebagai rekanan pemerintah dalam pembangunan Pasar Kota Bojonegoro pada tahun 1993/1994.

"PT Alimdo mengikatkan diri kepada kita, dari 1.285 pedagang pasar, bisa menerima kunci setelah persyaratan dipenuhi. Setelah pembayaran sewa ini selesai, maka toko, kios, dan bidak adalah menjadi milik Bapak dan Ibu sekalian," ujarnya.

Artinya, sambung Agus, kalau pemerintah daerah akan memaksakan kehendak untuk memindahkan para pedagang Pasar Kota ke Pasar Banjarejo II, pihaknya akan melakukan langkah-langkah hukum berupa gugatan class action. Dan juga upaya hukum untuk meminta ganti rugi.

"Karena akte sewa beli saat ini masih sah sebagai bukti kepemilikan, maka untuk membatalkan akte sewa beli harus melalui proses hukum. Kalau tidak, harus ada ganti rugi," tegasnya.

"Kalau hak-hak Bapak dan Ibu sekalian dirugikan, upaya hukum akan kita lakukan," lanjutnya.

Berbagai saran, masukan dan diskusi pada pertemuan para pedagang itu kemudian mengerucut pada satu kesepakatan, dimana para perwakilan pedagang Pasar Kota memutuskan menolak untuk dipindahkan ke tempat yang baru. Dan dituangkan dalam bentuk tertulis, salah satunya dinyatakan melalui sebuah banner, yang kemudian secara bersama-sama diucapkan dipimpin oleh H. Musta'in.

"Kami pedagang Pasar Kota Bojonegoro yang menempati pertokoan, bidak, dan kios, memutuskan menolak untuk dipindahkan ke tempat yang baru," ucap para pedagang.

Pertemuan berlangsung dan selesai secara tertib, serta mendapat pengawalan dari Polsek Kota Bojonegoro.(fin)

Kredit

Bagikan