Ahli Tak Tahu Korban Sudah Divisum

user
samian 21 Desember 2021, 21:41 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Arifin Jauhari

Bojonegoro - Sidang keenam perkara pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) nomor 215/Pid.Sus/2021/PN Bjn, digelar di ruang kartika Pengadilan Negeri Bojonegoro, Jawa Timur. Melibatkan terdakwa Muhamad Rozi, anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, dengan agenda pemeriksaan saksi. Dimana Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua ahli berprofesi dokter, Senin (21/12/2021).

JPU Dekry Wahyudi, mengajukan dua ahli dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro yaitu dr. Finna Yustita Sari seorang dokter umum dan dr. Imam Bakhtudin, Sp.OT seorang spesialis ortopedi. Keterangan ahli didengar secara terpisah, yang mana keterangan ahli yang pertama disampaikan tidak didengar oleh ahli yang kedua.

Dalam jalannya persidangan, diketahui bahwa korban Anik Susilowati, istri terdakwa datang ke RSUD Sosodoro untuk memeriksakan diri pada keesokan paginya usai dilakukan visum et repertum di RS Bhayangkara oleh dr. Juli Purwaningrum. Sehingga berakibat terjadi dua pendapat dari dua dokter yang berbeda. Karena dr. Juli tidak memandang perlu rawat inap pada pasien Anik. Sementara dr. Finna setelah berkonsultasi dengan dr. Imam memutuskan rawat inap kepada pasien.

Adanya dua pendapat dokter yang berbeda, disebut oleh Hakim Ketua Zainal Ahmad, dalam kasus tertentu mengganggu proses hukum. Oleh sebab itu hanya cukup satu dokter pro justitia melakukan visum et repertum. Perbedaan pendapat dari dua dokter itu kemudian menimbulkan pertanyaan dari Majelis Hakim kepada ahli, atas dasar apa rawat inap disarankan kepada pasien.

"Kami ragu-ragu, dan kemudian berkonsultasi kepada dr. Imam. Keputusannya rawat inap, untuk observasi lebih lanjut," kata dr. Finna menjawab Majelis Hakim.

Namun, cara dr. Finna berkonsultasi kepada dr. Imam melalui pesan WhatsApp dengan mengirimkan foto rontgen yang kemudian difoto lagi, sempat dinilai oleh Hakim Zainal Ahmad bukan foto otentik.

Selanjutnya, pada giliran didengar pendapat ahli kedua, yakni dr. Imam Bakhtudin, membenarkan pernyataan dr. Finna. Bahwa keputusan rawat inap dia putuskan untuk observasi pada hasil rontgen yang memperlihatkan adanya fraktur atau patah tulang. Agar diketahui lebih meyakinkan apakah patah tulang baru atau lama.

Hakim Anggota, Sonny Eko Andrianto, kemudian mempertegas, dengan menanyakan kepada dr. Imam, perihal keputusan rawat inap disebabkan perlu observasi lebih lanjut kepada pasien Anik.

Tetapi berkenaan hal itu, baik dr. Finna maupun dr. Imam mengaku tidak tahu, bahwa korban Anik sebagai pasien telah divisum pada malam harinya.

"Saya tidak tahu kalau pasien telah divisum. Pasien hanya mengatakan kalau habis terjatuh," ujar dr. Imam.

Sementara itu, terdakwa Muhamad Rozi, bertanya tentang kemungkinan memar atau nyeri tekan apakah bisa diakibatkan oleh pijatan keras kepada dr. Imam.

"Bisa saja," tegas dr. Imam.

Sidang ditunda sampai Kamis, 30 Desember 2021, untuk mendengar keterangan terdakwa berkaitan video yang diajukan sebagai alat bukti, setelah mendapat verifikasi dari ahli IT dengan lampiran tertulis.(fin)

Kredit

Bagikan